CRISPY PORA-PORA ANGKAT NAMA SUMUT

Masyarakat Sumatera Utara (Sumut) khususnya nelayan di Danau Toba patut merasa bangga karena Crispy Pora-pora yang berbahan dasar ikan pora-pora yang merupakan ikan asli Danau Toba telah masuk dalam nominasi penghargaan SNI Award. Penghargaan tersebut hanya diberikan kepada produk masyarakat yang memiliki kualitas terbaik dan diakui secara nasional sebagai produk unggul.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumatera Utara (BKP Sumut), Setyo Purwadi kepada MedanBisnis, Selasa (27/11) pada acara Forum dan Expo Pangan Nasional Gebyar Kuliner Nusantara di Tiara Convention Center. Pada event nasional sosialisasi diversifikasi/penganekaragaman pangan tersebut ia menuturkan, dengan masuknya Crispy Pora-pora menjadi nominasi SNI Award 2012, pada 13 November lalu di Jakarta, telah berhasil mengangkat nama Sumut khususnya masyarakat nelayan sekitar Danau Toba yang mau menjaga kelestarian danau dan menjadikan ikan asli danau terbesar di Indonesia tersebut sebagai kuliner khas.

Ia menjelaskan, dalam program diversifikasi pangan, yang mana konsumsi pangan masyarakat harus lebih beragam, bergizi, berimbang dan aman, berbasis sumber daya dan budaya lokal, Crispy Pora-pora merupakan salah satu produk yang menunjang percepatan diversifikasi pangan. “Crispy Pora-pora bisa  menjadi contoh sukses pengembangan sumber pangan berbasis sumber daya dan budaya lokal untuk konsumsi pangan masyarakat,” katanya.

Ia memberikan apresiasi yang cukup besar kepada Parlin Manihuruk dalam usahanya untuk mengangkat ikan pora-pora menjadi kuliner siap saji yang mengangkat nama Sumut. Menurutnya, sejak awal proses pengembangan, BKP Sumut sudah memberikan dukungan konkret, misalnya dengan bantuan mesin pengolahan ikan pora-pora. Selain itu, bentuk fasilitasi juga berupa pelatihan-pelatihan pengolahan ikan menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis. “Crispy Pora-pora merupakan mitra binaa BKP Sumut yang berhasil dalam mengembangkan usahanya,” katanya.

Dikatakannya, selama ini BKP Sumut sudah banyak memberikan dukungan kepada masyarakat untuk mengembangkan usaha dalam upaya untuk percepatan diversifikasi pangan. Bantuan yang diberikan misalnya dalam bentuk pelatihan-pelatihan kepada kelompok untuk mengembangkan usaha di bidang pangan, pengolahan pangan, dan mesin pengolahan serta mengikutsertakan produk-produk pangan tersebut pada event-event pameran pangan di berbagai tempat, baik skala lokal, nasional maupun internasional.

Ia menjelaskan, BKP Sumut memiliki komitmen kuat mendukung masyarakat untuk memaksimalkan potensi pangan lokal untuk percepatan diversifikasi pangan. Misalnya, kepada kelompok petani di  Serdang Bedagai untuk mengolah ubi jalar menjadi tepung mocaf.

Menurutnya, tepung mocaf bisa menggantikan terigu karena bisa dijadikan sebagai bahan dasar untuk membuat aneka ragam kue maupun mie. “Kita harus lepas dari ketergantungan terhadap bahan pangan asing, seperti terigu yang mana setiap tahunnya kita harus mengeluarkan biaya Rp 2 triliun untuk impor terigu, padahal potensi mocaf kita sangat besar,” katanya.

Selain itu, pihaknya serius untuk mensosialisasikan manggadong untuk mengurangi konsumsi beras dan meningkatkan cadangan pangan. Menurutnya, dengan manggadong, masyarakat bisa mulai untuk menerapkan pola makan secara beragam, bergizi, berimbang dan aman karena kebutuhan tubuh akan nutrisi tidak dapat jika hanya mengandalkan dari beras saja. “Jadi, kebutuhan gizi kita bisa dipenuhi dari sumber pangan yang kita konsumsi,” katanya. (dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *