SUMUT MASIH HADAPI EPIDEMI TERKONSENTRASI HIV DAN AIDS

Peringatan Hari AIDS se-Dunia

Medan-andalas Peringatan hari AIDS se-dunia akan diperingati semua negara termasuk Indonesia dan Kota Medan, hari ini Sabtu (1/12).  Provinsi Sumut, merupakan salah satu dari 33 provinsi di Indonesia yang menghadapi epidemi terkonsentrasi dari HIV dan AIDS. Dimana di bawah 5 persen kasus HIV dan AIDS telah ada di kelompok tertentu.

“Kasusnya menunjukkan peningkatan dari bulan ke bulan dan tahun ke tahun, juga keprihatinan semakin meningkatnya penularan HIV di kalangan kelompok risiko rendah yaitu perempuan dan anak. Untuk itu tema peringatan hari AIDS  sedunia (HAS) 2012 ‘Lindungi Perempuan dan Anak dari HIV dan AIDS,” ujar   Ketua Pelaksana Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumut Drs H.Ibnu Saud, Jumat (30/11) di kantor KPA Sumut.

Hingga September 2012, sebutnya, dari 26 kabupaten/kota di Sumut sebanyak 3.795 kasus, dimana HIV 1375 dan AIDS 2420 kasus. Berdasar jenis kelamin laki-laki 2853 kasus yaitu HIV 931 dan AIDS 1922. Perempuan 942, yang HIV 444 dan AIDS 498 kasus.

Sedangkan menurut usia, dibawah 1 tahun yang HIV 6 dan AIDS 2, 1 sampai 4 tahun HIV 39 dan AIDS 10, usia 5 sampai 9 tahun ada 8 yang HIV dan 4 AIDS atau keseluruhannya berjumlah 69 kasus HIV dan AIDS.

“Faktor risiko penularan HIV yang terjadi di Sumut dari laporan Dinkes Sumut 63,61 persen melalui hubungan seks, heteroseksual, transfusi darah 1,49 persen, penularan pada Ibu Rumah Tangga (IRT) 0,38 persen dan penularan pada Perinatal (Ibu HIV ke anak) sebesar 0,71 persen,” jelas Ibu didampingi Sekretaris Pelaksana Harin KPA Ahmad Ramadhan Mag.

Akan tetapi, sambungnya, kasus HIV dan AIDS di Sumut tidak merata secara jumlah di semua kabupaten/kota, ada kabupaten/kota yang sudah memiliki KPA, tetapi kasus yang dihadapinya masih kecil.

“Disisi lain, ada yang cenderung memiliki peningkatan epidemi yang tinggi tetapi KPAnya tidak eksis atau non aktip.Hingga September 2012 dari 10 kabupaten/kota yang melaporkan kasus HIV dan AIDS sebanyak 3.546 kasus. Kota Medan merupakan yang terbesar kasusnya yaitu 2399 kasus, HIV 938 dan AIDS 1461 kasus. Deli Serdang 361 kasus, HIV 142 dan AIDS 219,” ujar Ibnu.

Tingginya kasus di Kota Medan ini, katanya, dapat disimpulkan bahwa Kota Medan terburuk berkaitan dengan HIV dan AIDS. Tetapi sebaliknya, ini menunjukkan sistem dan mekanisme penanggulangan yang sudah berjalan dengan baik seperti berjalannya tupoksi KPA, berjalannya layanan kesehatan dan keterlibatan LSM atau kelompok pendamping dalam mendampingi dan membimbing kelompok-kelompok risiko tinggi untuk memanfaatkan klinik VCT sebagai salah satu media penemuan kasus HIV.

“Besar kecilnya jumlah kasus HIV dan AIDS di suatu wilayah kabupaten/kota salah satunya sangat ditentukan berjalannya perangkat sistem atau mekanisme di klinik VCT dan lancarnya proses pencatatan,” terang ibnu.

Namun disayangkan, peringtatan hari AIDS se-dunia, secara khusus KPA Sumut tidak melakukan kegiatan yang terencana, hanya dikaitkan dengan kegiatan biro pemberdayaan perempuan, anak dan keluarga sebagai leading sektor.

Sementara Ahmad Ramadhan menjelaskan, hingga saat ini baru 14 kab/kota di Sumut yang memiliki KPA, begitupun masih adanya KPA yang belum berjalan.  “Jadi diperlukan komitmen pemerintah daerah yang belum memiliki KPA untuk membentuk dan yang KPAnya sudah ada tapi belum efektip, pemerintah daerah juga diharapkan mengerakkannya,”katanya.

Pertemuan dalam rangka memperingati HAS itu juga dihadiri Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia (PDPAI) Sumut Dr dr Umar Zein SpPD, KSPTI, Pendiri LSM Medan Plus Eban Totonta Kaban, Fasiliatator Nasional HIV/AIDS Jumsadi, dr Irwan F Rangkuti SpKK dan lainnya.

Dilokasi terpisah Manejer Proyek Global Fund Andi Ilham Lubis mengungkapkan dalam HAS ini yang paling penting dilakukan adalah mendukung upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak melalui PMTCT atau pencegahan penularan dari ibu ke anak.

“Selama ini upaya untuk itu seperti pemberdayaan perempuan dan anak belum ada di bagian sektor terkait dan bagaimana melibatkan dinas terkait seperti dinas pendidikan, dispora, bagian pemberdayaan perempuan juga PKK. Permasalahan HIV tidak hanya masalah kesehatan,” tukasnya.

Untuk itu, dalam tahun 2013, Andi berharap agar program PMTCT di pronk 1 dapat dijalankan melalui lintas sektoral ataupun stake holder. “Dalam program PMTCT ada 4 pronk, dan di pronk 1 itu disebutkan melindungi wanita dari HIV melalui penyuluhan tentang HIV, karena banyak suami yang positip HIV tetapi istrinya tidak mengetahui,” ucapnya. (YN)
sumber : harianandalas

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *