SIAPA PENYERANG BERPANAH ITU? WARGA: “KAMI HANYA LIHAT KERETA TABRAK POHON”.

IMANUEL SITEPU. MEDAN. Terkait 3 remaja warga Desa Suka Raya (Kec. Pancurbatu) yang dikatakan diserang warga saat melintas dengan mengendarai Supra X 125 BK 5299 KT di Jl. Flamboyan Raya (Medan) [Minggu 23/9 sekira Pkl. 00.30 Wib], hingga saat ini, belum ada pengaduan dari pihak keluarganya. Demikian dikatakan Kapolsek Delitua Kompol S.P. Sinuligga [Senin 24/9 pagi].
Dikatakannya lagi, saat melintas di TKP, ketiga remaja itu kurang hati-hati sehingga menabrak pohon kayu di sisi kiri badan jalan. “Kejadian itu murni kecelakaan tunggal. Bukan dihajar massa yang geram dengan aksi geng motor,” ujar Sinulingga lagi. Ketiga remaja bernama Rizki Ananda (17), Muhammad Fahureza Akbar (17) dan Deny Wijaya (18).

“Kita sudah turun ke lapangan. Korban tewas karena kecelakaan setelah menabrak pohon besar di pinggir jalan itu. Saat kejadian, 1 korban tewas dan 2 lainnya mengalami luka-luka. Kedua korban luka saat ini sedang dirawat di RSUP H. Adam Malik, Medan. Kasus kecelakaan ini telah ditangani oleh pihak Satlantas Polresta Medan. Mengenai dugaan tewasnya korban akibat dihajar massa, kita tak ada menerima laporan dari pihak keluarga,” ujar Sinulingga mengakhiri.

Bekas Panah?
Sementara itu Nariman (53) warga Desa Sukaraya (Kec. Pancurbatu) yang merupakan orangtua dari Deny Wijaya (17) selaku korban dari peristiwa tersebut, yang saat ini mendapat perawatan serius di RSUP H. Adam Malik, mengatakan: “Memang mereka menabrak pohon di jalan itu. Tetapi, sebelumnya mereka telah dilempar batu dan dipanah oleh orang yang tak dikenal. Makanya mereka ngebut dan menabrak pohon hingga terjatuh,” ujar bapak 5 anak ini. Ditambahkannya, saat ini anaknya masih dirawat di ruangan karena lukanya cukup parah. “Kepala anak saya seperti kena panah karena lukanya berbentuk segitiga. Punggungnya juga lembam dan sudah menghitam,” kata Ngariman lagi.

Lanjutnya lagi: “Pada saat anak saya terjatuh, mereka dipukuli oleh orang yang tak dikenal. Namun, saat melihat dompet anak saya dan memeriksa isinya, orang tersebut menemukan kalau anak saya masih pelajar. Hal tersebutlah yang membuat mereka berhenti menghajar anak saya ini,” ujar Ngariman sedih.

Saat ditanya apakah Nariman akan melaporkannya kepada pihak kepolisian, dia menjawab: “Nggak usah dilapor lah. Yang penting anak saya sembuh. Itu saja udah cukup. Saat kejadian, keluarga Rizki teman anak saya yang tewas telah melapor ke polisi. Tapi, laporannya dicabut kembali karena, jika melapor, almarhum harus diotopsi lagi. Jadi, memakan waktu yang lama untuk melakukan proses penguburan almarhum,” pungkasnya sembari mengatakan dirinya mengetahui kejadian ini dari teman anaknya yang melarikan diri pada saat peristiwa tersebut. Rizki teman anaknya juga telah dikuburkan. Satu korban lainnya bernama Muhammad Fahrureza Akbar (17) juga masih dirawat intensif di ruangan ICU RSUP H. Adam Malik. Kabar yang didapat, Fahrureza belum sadarkan diri hingga saat ini.

Saat Sora Sirulo menyambangi Tempat Kejadi Perkara, warga mengaku tak ada yang melihat aksi peyerangan itu. Mereka hanya melihat segerombolan pengendara sepeda motor yang melintas dan, kemudian, salah satu sepeda motor itu menabrak pohon. Seperti pengakuan Andi, warga Jl. Flamboyan: “Malam itu aku duduk di warung sana. Memang ada kuliihat orang naik kereta tarik tiga jatuh menabrak pohon. Karena aku tak kenal, enggak kuperdulikan kali. Tak lama berselang, polisi datang dan membawa mereka ke rumah sakit,” ujar Andi. Dikatakannya lagi: “Setauku, tak ada warga sini yang menyerang mereka begitu jatuh dari keretanya. Mungkin mereka takut dimarahi orangtuanya karena jatuh dari kereta, jadi berbohong lah mereka,” ujar pria bertubuh tambun ini sambil berlalu.
sumber : sorasirulo

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *