KACANG SIHOBUK OLEH-OLEH DARI SIPOHOLON

MedanBisnis – Tarutung. Kacang Sihobuk oleh-oleh khas dari Kabupaten Tapanuli Utara. Dua Kecamatan di Taput yakni, Kecamatan Tarutung dan Sipoholon, menjadi produsen daripada kacang garing itu. Namun, para pengusaha yang mengelola bisnis kacang garing yang sudah dikenal dari tahun 1970-an ternyata masih jarang mengantongi hak paten, kecuali beberapa orang saja.

Seorang pengusaha kacang garing Sihobuk yang telah mengantongi hak paten yaitu pengusaha merek kacang Martabe, di Silangkitang, Kecamatan Sipoholon N boru Manalu (60) yang ditemui MedanBisnis mengaku mendapat hak paten sebagai produsen kacang Martabe. Hak paten itu diperolehnya sejak empat tahun lalu di Jakarta.

Boru Manalu menututurkan, usaha kacang Martabe digelutinya sekitar tahun 1991. Ia mengemukakan, usahanya bertumbuh menjadi besar karena menggunakan bahan baku yang bagus serta konsisten mengolah kacang dengan cara manual yaitu, proses penggongsengan dengan tenaga kerja manusia.

“Mungkin usaha ini bertahan karena kita terus menggunakan tenaga manusia untuk mengerjakan penggongsengan kacang. Ya, hasilnya, kacang tetap garing dan gurih. Memang kalau dihitung dari biaya produksi antara manual dengan bantuan mesin untuk menggongseng kacang, jauh lebih besar biaya manual. Namun, kita akan berupaya untuk tetap melakukan penggongsengan manual, guna menghasilkan rasa yang tetap terjaga dan diminati pasar,” ungkap istri dari almarhum marga Panjaitan itu.

Faktor yang mendukung kacang menjadi garing, terang boru Manalu, adalah bahan baku. Bahan baku, tentunya, kacang tanah, lebih bagus yang ada di Tapanuli Utara. Kacang diperoleh dari Kecamatan Tarutung, Kecamatan Adiankoting, Kecamatan Pahae dan dari beberapa kecamatan lagi di Tapanuli Utara.

Ciri dari kacang tanah Tapanuli Utara, jelas boru Manalu, biji besar dan padat. Untuk saat ini, harga dari petani Rp 80 ribu per kaleng. “Ya, untuk tahun ini, kita tidak kewalahan dengan bahan baku lokal. Mungkin saja kacang petani di Tapanuli Utara saat ini sangat banyak, sedangkan tahun kemarin sangat terbatas hingga harganya mencapai Rp 120 per kaleng. Sehingga karena harga tahun kemarin sangat mahal, petani berlomba-lomba bertanam kacang tanah,” ungkap boru Manalu.

Ia mengemukakan, untuk menggongseng per 2 kaleng kacang tanah menggunakan kuali ditungku memakan waktu hingga dua setengah jam. Dengan karyawan 10 orang, mereka hanya dapat menggoseng sekitar 50 kaleng kacang tanah per hari. Dan untuk kayu bakar, mereka menghabiskan 1 truk jenis colt diesel per minggunya.

“Ya, kalau dihitung-hitung biaya produksi dengan penggongsengan manual, kita hanya memperoleh untung sedikit-sedikitlah. Yang jelas, saya dapat membuka lapangan kerja di daerah ini,” katanya.

Menurutnya, para konsumen senang dengan cita-rasa kacang garing yang  diproduksinya. Di samping itu, mungkin karena kacang garing  itu juga sudah teruji cita-rasanya sehingga boru Manalu tidak repot lagi dalam pemasarannya, apalagi konsumen langsung datang ke tempat Kacang Martabe ini. “Kadang kalau hari-hari besar, kita tidak sanggup memehuhi permintaan pasar. Sebab, hari yang dimaksud penjualan melebihi seratus persen dari hari-hari biasa. Hari-hari biasa saja, penjualan kacang garing sampai 40 kaleng per hari,” tukas boru Manalu. (ck-07)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *