LAHAN SUDAH JENUH, PERTANIAN ORGANIK HARUS DIGALAKKAN

MedanBisnis –Medan. Lahan pertanian di Sumatera Utara (Sumut) dalam beberapa parameter sudah tergolong jenuh sehingga ke depan tidak ada pilihan lain kecuali harus menggalakkan pertanian organik. Selain untuk kembali menyuburkan lahan Sumut yang dari dulu dikenal kawasan subur juga berperan dalam penurunan emisi.
Kepala Dinas Pertanian Sumut HM Roem, mengatakan, sudah puluhan tahun tanah pertanian Sumut dicekoki pupuk tunggal maupun pupuk konvensional.

“Jadi jelaslah tanah di Sumut sudah capek sehingga kita semua harus lebih komit mendayagunakan pupuk organik,” tegasnya seraya mengemukakan di luar Pulau Jawa maka Sumut merupakan daerah terbesar perkembangan pupuk organik.

Hal itu dikatakan Roem pada Forum Konsultasi Publik Rencana Aksi Dasar (RAD) Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) bekerja sama dengan JICA, USAID dan Bappenas, di Hotel JW Marriott, Jalan Putri Hijau, Medan, Selasa (25/9), yang menghadirkan sejumlah pakar nasional maupun luar negeri.

Dihadapan Kepada Bappeda Sumut H Riadil Akhir Lubis selaku “leading sector” forum dialog itu, Roem mengatakan, pertanian organik secara teoritis sangat baik bagi lingkungan. Praktiknya yang ramah bagi lingkungan sangat baik diterapkan secara massal. Dari segi energi, pertanian organik juga turut berperan dalam penurunan emisi terutama CO2, CH4, dan N2O.

“Pertanian organik bukan metode baru. Sejak awal teknologi pertanian diterapkan manusia, metode yang digunakan adalah sama dengan organik dan menggunakan bahan-bahan alamiah yang ramah lingkungan,” jelas Roem.

Walaupun menggunakan prinsip ramah lingkungan lanjutnya pertanian organik menggunakan teknologi modern dalam teknik bercocok tanam, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama dan penyakit, serta manajemen yang baik untuk menunjang kesuksesan pertanian organik.

Pengembangan pertanian organik lanjutnya harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan.

Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan.

“Menjaga sifat fisik, kimia dan biologi tanah yang baik merupakan hal yang penting dalam pertanian organik katanya sehingga pertanian organik diutamakan cara pengelolaan tanah yang meminimalkan erosi, meningkatkan kandungan bahan organik tanah serta mendorong kuantitas dan diversitas biologi tanah,” kata Roem.

Selain itu lanjutnya pertanian organik terbukti mampu meminimalkan perubahan iklim global karena emisi gas rumah kaca (greenhouse gas emission) pada pertanian organik lebih rendah dibandingkan pertanian konvensional.

Dalam pertanian organik tidak menggunakan pupuk nitrogen sintetis sehingga tidak ada emisi nitrogen oksida dari pupuk buatan tersebut. “Jadi karena tanah di Sumut dalam beberapa parameter sudah tergolong jenuh maka ke depan harus digalakkan pertanian organik,” tandasnya.(benny pasaribu)
sumber: medanbisnisdaily

 

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Berita Pilihan, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *