PERMINTAAN KOPI INSTAN TERUS MENINGKAT

MedanBisnis – Medan. Pola konsumsi masyarakat dunia atas kopi yang meningkat tajam terutama di luar negeri, turut memberi andil pada perubahan nilai maupun volume ekspor kopi instan Sumatera Utara (Sumut).
Tercatat, sepanjang Januari-Agustus 2012, realisasi nilai ekspor kopi instan mengalami peningkatan sebesar 27,35% dari US$ 5,785 juta di tahun 2011 menjadi US$ 7,368 juta di tahun ini. Kopi instan ini paling banyak dikirim ke Malaysia, Singapura, China serta Jepang. Ke-4 negara ini memang menjadi tujuan terbesar kopi instan, dimana tingkat konsumsi masyarakatnya cukup tinggi.

Lonjakan ekspor kopi instan ini tidak hanya terjadi di Sumut. Peningkatan permintaan bubuk kopi dalam kemasan ini juga terjadi di seluruh wilayah penghasil kopi di Indonesia, di antaranya Lampung. “Konsumsi masyarakat internasional akan kopi memang sangat bagus. Ini juga yang membuat permintaan dari pasar internasional jadi tinggi,” kata Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Andryanus, di Medan, Senin (24/9).

Kondisi ini, lanjut Andryanus, bukan hanya membawa angin segar bagi nilai ekspor Sumut, tapi  juga terjadi pada volume yang naik dari 1.440 ton  menjadi 1.734 ton.

Selain konsumsi yang tinggi, menurutnya, hal ini juga disebabkan adanya penurunan pembelian dalam bentuk biji. Ini lantaran harga kopi dalam bentuk biji lebih mahal hingga membuat masyarakat memilih kopi instan. Peralihan konsumsi masyarakat ini bukan hanya terjadi di pasar international, namun juga terjadi di pasar domestik. Terbukti, permintaan kopi instan untuk pasar domestik tak kalah banyak dibandingkan pasar internasional. Meski belum terdata secara pasti, namun diyakininya jumlahnya tinggi dan diperkirakan akan terus meningkat.

Dia mengatakan, banyaknya permintaan kopi domestik ini terjadi lantaran kini para petani lokal mulai memahami pasaran internasional khususnya untuk jenis kopi Gayo, Mandailing, dan Toraja.

Kasie Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut Fitra Kurnia, mengungkapkan, selain kopi instan, Sumut juga ekspor kopi arabica dan robusta. Tercatat, hingga periode Agustus 2012, ekspor kopi arabica Sumut senilai US$ 263,832 juta dan volume 42.240 ton atau naik 8,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 242,491 juta dan volume 41.256 ton. Sedangkan ekspor kopi robusta senilai US$ 5,280 juta dan volume 2.453 ton atau turun 19,68% dibandingkan tahun 2011 senilai US$ 6,574 juta dan volume 4.144 ton.

Pengamat ekonomi dari Universitas HKBP Nommensen Dr Parulian Simanjuntak, mengatakan, lonjakan permintaan kopi instan atau bubuk kopi memang terjadi secara nasional. “Ini tidak terlepas dari adanya pola konsumsi yang semakin tinggi terhadap kopi. Mungkin bisa terjadi mengikuti konsumsi yang cukup tinggi di pasar internasional,” katanya.

Ia menambahkan, tren menguatnya permintaan bubuk kopi itu mengindikasikan kalau industri kopi nasional akan semakin berkembang. Dengan naiknya volume ekspor kopi bubuk juga bisa menekan anjloknya penerimaan devisa dari biji kopi yang dipicu turunnya volume dan harga jual karena krisis finansial yang masih melanda Eropa dan AS. (elvidaris simamora)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *