MENANTI UNTUNG

Kelapa sawit masih menjanjikan keuntungan yang besar. Dengan konsep yang memenuhi prinsip dan kriteria Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ditambah keunggulan hanya menggunakan pupuk organik, masyarakat patut untuk menantikan hasil yang lebih baik selain dari pasar yang terbuka lebar dan produk yang mampu bersaing.
Menurut Diana Kosmanto, selaku Sekretaris Yayasan Ekosistem Lestari – PAN Eco di ruangannya di Jalan Wahid Hasyim, lahan percontohan perkebunan kelapa sawit seluas 100 hektare yang berada Desa Lamie dan Dusun Gagak, Kabupaten Nagan Raya, Aceh saat ini baru bisa menghasilkan sawit pasir. Diperkirakan di tahun ke-5 atau 7, petani sudah dapat menikmati hasil penerapan konsep lestari dalam mengelola perkebunan kelapa sawit dengan pupuk organik.

Ia mengatakan bahwa masyarakat pada umumnya sekarang mulai memahami tentang pentingnya penerapan konsep berkelanjutan. Kelompok masyarakat tersebut merupakan masyarakat yang diberdayakan untuk dapat mengelola lahannya dengan baik. Dikatakannya bahwa masyarakat tersebut yang kini sudah memiliki koperasi berupa koperasi Credit Union Makmur Lestari.

Koperasi ini sendiri sudah memiliki modal Rp 100 jutaan. “Kami memberikan dukungan berupa bantuan permodalan, yang mana ketika kelapa sawit yang ditanamnya di lahan tidur tersebut sudah mengalami break even point atau balik modal, maka akan digulirkan ke petani lainnya,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, dari lahan 100 hektare tersebut diproduksi yang pertama masih sawit pasir, yang mana belum cukup usia untuk produksi maksimal. Dikatakannya bahwa kelapa sawit tersebut baru akan memberikan hasil maksimal di usia ke-5 atau 7 tahun. “Karena ini organik, perkiraan minimal, nantinya di panen pertama akan menghasilkan produksi kisaran 15 – 20 ton per hektare per tahun,” katanya kepada MedanBisnis, Sabtu (22/9) di Medan.

Ia mengungkapkan,  sawit organik tentunya akan memiliki nilai yang lebih dibandingkan dengan sawit pada umumnya yang tidak menggunakan pupuk organik. Karena itu pasar yang sedang sudah dijajaki nantinya, yakni di Eropa merupakan pasar yang siap menampung kelapa sawit yang dihasilkan  dari penerapan konsep berkelanjutan plus organik.

Dikatakannya bahwa karena menggunakan pupuk organik, menurutnya produksi di awal tidak akan sebanyak jika menggunakan pupuk kimia. Hal tersebut disebabkan karena sebagaimana kerja dari pupuk organik pertama kali adalah memperbaiki kondisi tanah yang mana sebelumnya belum memiliki tingkat kesuburan yang cukup. Berbeda dengan pupuk kimia, yang  sejak penggunaan awal dapat memacu produksi maksimal. “Umumnya petani memilih menggunakan pupuk kimia karena keinginan produksi yang melimpah dan cepat,” ungkapnya.

Padahal, lanjutnya, penggunaan pupuk kimia dan pestisida dapat menghilangkan binatang predator alami sehingga hama ataupun gulma yang bisa mengganggu tanaman utama marak bermunculan dan nyaris tak dapat dikendalikan. Menurutnya, semua hal tersebut tidak terjadi jika penggunaan pupuk kimia dan pestisida dapat dikurangi. “Itu juga akan mengurangi ongkos produksi secara signifikan,” katanya.

Menurutnya, di lahan percontohan tersebut, sekitar 3 hektare dijadikan sebagai lahan konservasi, dengan pertanaman  konsep tumpang sari. Di lahan  tersebut, kelapa sawit dicampur dengan tanaman lain semisal karet, pisang dan lainnya. Dikatakannya, dengan adanya tanaman lain di sekitar tanaman utama dapat berfungsi sebagai tanaman pelindung. “Jadi kalau ada serangan hama, ia akan menyerang tanaman lainnya sebelum ke tanaman utama,” ungkapnya.

Selain itu petani juga memiliki alternatif keuntungan jika salah satu tanaman tidak menghasilkan, petani akan tetap mendapatkan untung dari tanaman lainnya. Dikatakannya bahwa dalam pola tanam polikultur tersebut, menurutnya juga sebagai pemanfaatan lahan secara maksimal tanpa merusak atau mengganggu tanaman utama. ( dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *