MASSA USIR PAKSA KARYAWAN PERKEBUNAN SAWIT UD SAWITA

MedanBisnis–Langkat. Sedikitnya 200-an orang masyarakat Desa Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat Kabupaten Langkat Sabtu (22/9) mendatangi barak perkebunan kelapa sawit milik UD Sawita di Dusun Tepi Gandu Desa Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat,Langkat.
Mereka mengusir paksa karyawan perkebunan yang sedang bekerja memipil
tandan buah segar (TBS) di barak itu. Akibatnya karyawan yang mengetahui
adanya kedatangan ratusan masyarakat lari pontang-panting menyelamatkan
diri.

Ratusan masyarakat mengambil tindakan sendiri setelah tindakan hukum yang dilakukan pemerintah terhadap UD Sawita milik Sutrisno alias Akam tidak berjalan. Pasalnya, lahan seluas 975 hektar yang dijadikan perkebunan kelapa sawit itu merupakan tanah hutan mangrove register 8/LA yang dilindungi dan dilestarikan namun merasa kebal hukum,  oleh UD Sawita lahan reboisasi mangrove itu masih juga diusahai untuk tanaman kelapa sawit seluas 975 hektar.

Aksi masyarakat itu merupakan aksi yang ke 8 kalinya setelah mereka menjebol tanggul pembatas air laut dan menanami sebagian lahan sawit itu dengan tanaman mangrove bersama Walhi Sumut 4 bulan silam.

“Kami bertindak membantu pemerintah dalam mengusir perambah hutan mangrove register 8/LA,karena Sutrisno alias Akam tidak memakai hukum di NKRI. Mereka memakai hukum luar negeri,”sebut juru bicara masyarakat Lubuk Kertang, Eldin Rusli saat aksi usir paksa kemarin.

Dia menerangkan, sudah berulang kali pemerintah melarang Sutrisno alias Topo alias Akam untuk meninggalkan lahan sawitnya, karena itu merupakan kawasan register 8/LA yang direboisasi dengan dana GNRHL/Gerhan dan hutan mangrove.

“Ini contoh surat yang dikeluarkan Sekdakab Langkat Drs Surya Djahisa atas nama Bupati Langkat selaku ketua tim terpadu penertiban hutan dan lahan kawasan pesisir pantai tertanggal 17 November 2011 nomor 522-2849/Pem/2011 tentang Peringatan untuk segera menghentikan aktifitas alih fungsi lahan di wilayah pesisir pantai di Langkat yang ditujukan kepada Sutopo alias Sutrisno alias Akam.

Dan surat nomor 522-2912/Hutbun/2011 tanggal 25 Nopember 2011 tentang  melakukan tindakan hukum terhadap saudara Topo alias Sutrisno alias Akam di Desa Lubuk Kertang  yang ditujukan kepada Polres Langkat,Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPROC) Sumut.Tetapi tidak digubris,” paparnya.

Dikatakannya lagi,jika dalam waktu 2 kali 24 jam pihak perkebunan tidak hengkang,maka ribuan masa mengambil tindakan pembabatan kawasan perkebunan dan menanami tanaman mangrove seperti yang pernah mereka lakukan.

Pantauan Medan Bisnis dilokasi UD Sawita Lubuk Kertang, aksi masa sempat memanas . Masa sempat melempari barak dan pos jaga UD Sawita dengan batu hingga kaca jendela hancur. Massa nyaris membakar barak dan kantor afdeling UD Sawita,namun aksi itu bisa dicegah dan diamankan oleh Polsek Pangkalanbrandan yang langsung dipimpin Kapolsek Pangkalabrandan AKP Z Lubis .

“Kita inginkan situasi kondusif, jangan ada anarkis dan melaggar hukum,karena pihak Akam tidak berani datang,besok atau Senin kita pertemukan di Kantor Desa,jika pihak perkebunan tidak mau datang,kita sarankan mereka  mereka mengadu ke DPRD,”  kata Kapolsek kemarin.
Didampingi Lembaga Pengkajian Pelayanan Masyarakat (LPPM) Koordinator Langkat, Abu Sofyan,Asran safari, Sigianto. Eldin Rusli membeberkan,sudah berulang kali kasus ini dibawa keranah hukum, tetapi tidak pernah selesai.(misno)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *