MASIH TERIMBAS KRISIS EROPA, PERMINTAAN KOPI SUMUT MELEMAH

MedanBisnis – Medan. Krisis Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang berkepanjangan berimbas pada permintaan kopi asal Sumatera Utara (Sumut). Importir di negara tujuan berdalih, order produk turunan kopi sepi sehingga terpaksa memangkas jumlah produksi. Ini tentu saja berimbas pada pembelian bahan baku. Kondisi ini juga membuat harga kopi biji turun di tingkat lokal.
“Permintaan yang sepi dan tawaran harga jual yang melemah membuat ekspor biji kopi Sumut terus turun. Kondisi ini memang sangat erat kaitannya dengan krisis finansial yang melanda Eropa dan AS. Kita memang berharap, stimulus oleh The Fed akan membuat permintaan kopi naik kembali,” ungkap Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut, Andryanus Simarmata, di Medan, Kamis (20/9).

Harga ekspor biji kopi arabika sekitar Rp 46.000 per kilogram (kg), sementara harga di lokal hanya Rp 43.000 per kg. “Dengan kondisi itu bagaimana mau mengekspor. Jadi memang harus ada kesepakatan untuk menahan supaya harganya membaik kembali,” katanya.

Eksportir, katanya, semakin tidak berani bertransaksi khususnya mengikat kontrak baru, karena harga di pasar internasional juga saat ini masih berfluktuatif dengan cepat.

Wakil Ketua Bidang Speciality Industri Kopi AEKI Sumut, Saidul Alam, menyebutkan, eksportir memilih wait and see karena takut merugi dengan harga yang berfluktuasi cepat dan tren melemah.
Importir menilai harga kopi biji khususnya asal Sumatera terlalu mahal. Harga ideal pembeli di kisaran US$ 5 hingga US$ 5,2 per kg, sedangkan harga kopi asalan di Medan Rp 40.000 hingga Rp 41.000 per kg.

Menurut Saidul, harga jual yang bertahan mahal di pasar lokal sendiri merupakan dampak dari produksi yang belum memadai meski masa panen mulai mau masuk.

Kepala Seksi Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sumut, Fitra Kurnia, mengatakan ekspor biji kopi arabika hingga Agustus 2012 berdasarkan data Surat Keterangan Asal (SKA) bertumbuh 8,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Volume ekspor kopi arabika sebanyak 42.240 ton dengan nilai US$ 263,832 juta. “Memang ekspor tren melemah, tapi masih ada peningkatan dibandingkan tahun lalu meski sedikit,” katanya.
Negara tujuannya ekspor ke AS, Singapura, Kanada, Jerman, Jepang, Belgia dan Australia.

Salah seorang petani kopi di Sidikalang, R Sembiring, ketika dihubungi menyebutkan, harga jual kopi di tingkat petani semakin melemah.”Bayangkan dari sebelumnya sempat Rp 23.000 per kg, pekan ini tinggal Rp15.500 per kg,” katanya.

Selain harga beli melemah, lanjutnya, permintaan dari pedagang juga sepi dengan alasan pabrikan mengurangi pembelian dampak ekspor berkurang. “Meski harga anjlok, yah terpaksa dijual juga, karena takut harganya semakin turun karena mau memasuki masa panen di Oktober,” tegasnya. (elvidaris simamora)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *