HARGA SAWIT ANJLOK, PETANI KECEWA

MedanBisnis – Teluk Mengkudu. Petani sawit di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) saat ini menelan pil pahit. Sebab, dalam beberapa waktu terakhir harga tandan buah segar (TBS) di berbagai perkebunan kelapa sawit di kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Deliserdang itu merosot  tajam.
Menurut Joni Panjaitan (40), petani sawit di Desa Pekan Sialang Buah, Kecamatan Teluk Mengkudu, menuturkan, di bulan September ini TBS hanya dihargai Rp850 per kilogram oleh para pedagang pengumpul. Angka ini menurun tajam dibanding harga per Agustus, di mana saat Hari Raya Idul Fitri 1433 H lalu, harga TBS sempat menyentuh nilai Rp1050 per kilogram.

“Sekarang ini TBS hancur. Para tauke-tauke itu hanya bisa memutuskan harga senilai Rp 850 per kilogram,” ungkapnya. Terang saja kondisi ini membuat Joni kalut dalam me-manage biaya operasional usaha kebun sawitnya.

Apalagi, saat ini dari total enam hektar lahan sawit yang sudah ditanami di areal seputaran kebun sawit miliknya di Desa Sialang Buah rata-rata masih tahap buah pasir. “Ya, kalau masih 5 kilogram ke bawah per tandan tauke hanya menawar separuh dari  harga TBS alias cuma Rp425 per kilogram,” keluh Joni.

Apa yang dialami Joni, juga dialami Cipto (52), petani sawit asal Kecamatan Dolok Masihul.
Kepada MedanBisnis Cipto menyebutkan, agar dapat berjalan normal kembali, para petani sawit di Serdang Bedagai berharap pemerintah maupun pengusaha pabrik kelapa sawit (PKS) agar dapat menyesuaikan harga TBS ini agar kembali normal.

Hal ini penting, kata Cipto, mengingat sawit adalah komoditas pertanian andalan di Serdang Bedagai selain karet dan tentunya padi. Pastinya, kata dia, kondisi ini cukup memengaruhi perekonomian di kehidupan rumahtangga para petani.

Lalu, apa kata tauke pengumpul TBS? Wiwik, salah satu tauke sawit di kabupaten itu mengakui bila TBS sekarang ini di tingkat petani hanya sanggup diambil tauke berkisar antara Rp800 sampai dengan Rp900 per kilogram.

“Harga itupun masih tergantung lagi dari kondisi kematangan buah,” ujarnya. Diakuinya, kondisi ini memang berlangsung pascahari Raya Idul Fitri 1433 H lalu. Para pengumpul inipun tak begitu berani berspekulasi.

Sebab, kata Wiwik, di tingkat pabrik kelapa sawit (PKS) sendiri TBS hanya bisa disetor dengan harga Rp900 sampai dengan Rp1000 per kilogram.  “Cemana mau dibuat lagi. Selisihnya sedikit, belum lagi risiko susutnya timbangan ketika di petani hingga sampai ke PKS,” tegas tokoh pemuda kabupaten Serdang Bedagai tersebut. (n jhonni sitompul)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *