TINDAKAN MAFIA “PENGOPLOS” PUPUK BERSUBSIDI IDENTIK DENGAN TERORISME EKONOMI

Komisi B DPRDSU Tegaskan:

Medan, (Analisa). Komisi B DPRD Sumut menegaskan, tindakan mafia “pengoplos” ribuan ton pupuk bersubsidi di Gudang BIA-Mabar dan Gudang Berkat-KIM (Kawasan Industri Medan) yang digrebek Tim Komisi B identik dengan terorisme ekonomi terhadap petani, sehingga lembaga legislatif mendesak aparat Kepolisian untuk segera mengusut aktor intelektualnya yang diduga “dibacking” oleh “orang besar”, sehingga aksinya tetap mulus sejak tahun 2009.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua dan anggota Komisi B DPRD Sumut T Dirkhansyah Abu Subhan Ali, SE Ak, H Ali Jabbar Napitupulu, Japorman Saragih, Darmawan Sembiring, DR Layari Sinukaban, SIP, Sudirman Halawa SH, Faisal SE, Aduhot Simamora dan Drs H Rijal Sirait kepada wartawan, Jumat (21/9) di DPRD Sumut menanggapi belum terungkapnya secara transparan kasus “pengoplosan” pupuk bersubsidi.

“Pengoplosan pupuk bersubsidi ini merupakan kejahatan ekonomi yang luar biasa dan sudah pada tingkat subversib, karena kehidupan petani atau dengan kata lain kebutuhan rakyat kecil dirampas, sehingga dengan sendirinya petani “dibunuh” secara perlahan. Bahkan tindakan mafia pupuk ini sudah tergolong terorisme ekonomi,” kata T Dirkhansyah, yang akrab disapa Diky.

Berkaitan dengan itu, Diky mendesak aparat kepolisian untuk mengungkap aktor intelektual dibalik “pengoplos” pupuk bersubsidi ini, sebab diduga dibacking oleh “orang besar”, karena tidak mungkin aksi ini berjalan mulus sejak 2009 hingga kini, tanpa ada tindakan dari pihak manapun juga.

“Jika aparat Kepolisian tidak mengungkap kasus ini secara transparan, kita tidak tahu apa lagi yang akan terjadi terhadap petani, tentunya mengalami kelaparan secara terus-menerus, sebab selama ini petani sudah cukup menderita akibat ketiadaan pupuk yang ternyata telah “dirampas” oleh mafia “pengoplos” bersama kelompok-kelompoknya,”kata Diky.

Usut

Sementara, Japorman mengusulkan dibentuk Pansus (Panitia Khusus) DPRD Sumut untuk mengusut kasus “pengoplosan” pupuk bersubsidi ini, karena diduga masih banyak lokasi yang dijadikan sebagai tempat “mengoplos” pupuk di sejumlah titik di Kota Medan, seperti yang baru-baru ini digrebek Kepolisian di daerah Desa Simalingkar.

Jika aparat Kepolisian tidak bisa mengungkap aktor intelektual mafia “pengoplos” pupuk bersubsidi ini, kemungkinan besar kita akan bentuk Pansus, apalagi kasus ini sudah ditangani Fraksi-fraksi di DPRD Sumut,” ujar Japorman sembari menambahkan, kegiatan “pengoplos” pupuk ini sangat menggiurkan, karena harga pupuk subsidi dengan non subsidi selisihnya mencapai Rp3000/Kg.

Berkaitan dengan itu, ujar Dirkhansyah dan Aduhot Simamora menyatakan, Komisi B telah sepakat mengagendakan “memanggil” Poldasu, PT PIM (Pupuk Iskandar Muda), PT Pusri (Pupuk Sriwijaya) selaku penyalur pupuk bersubsidi di Sumut dalam rapat dengar pendapat yang digelar awal Oktober 2012 mendatang, guna mengetahui sejauh-mana penuntasan kasus “oplosan” ribuan ton pupuk tersebut.

Aduhot bahkan mengklarifikasi peryataan petinggi Poldasu yang mengatakan, Tim Poldasu yang mengrebek gudang tempat pengoplos ribuan ton pupuk bersubsidi tersebut. “Ini perlu diluruskan, yang “menggrebek” gudang pengoplos pupuk itu tim Komisi B, bukan Poldasu. Tapi setelah kita temukan, kita kemudian menghubungi Poldasu untuk dilakukan penyegelan dan pengusutan,” ujarnya.

Menyinggung adanya kabar beredar, oknum Komisi B telah menerima suap dari mafia “pengoplos” pupuk bersubsidi pasca “penggrebekan” gudang pupuk tersebut, Diky sepakat, agar siapa saja yang terlibat dan “bersekongkol” dalam permainan mafia pupuk tersebut, harus diusut secara tuntas.

“Kalau ada anggota dewan khususnya oknum di Komisi B yang menerima suap, silahkan diperiksa, kita tidak menghalang-halangi penegakan hukum. Komisi B membuka diri dan siap diperiksa aparat Kepolisian,” ujar Diky sembari mengungkapkan, lembaga legislatif sudah komit mengawal kasus ini hingga tuntas, karena sangat merugikan petani Sumut.(di)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *