RATUSAN POLISI MENOLAK MUTASI, KOMANDAN DIANCAM BADIK

[MAKASSAR] Peristiwa memalukan di lingkungan institusi kepolisian terjadi di Polrestas (Kepolisian Resort Kota) Parepare, Sulawesi Selatan, sekitar 150 anggota Polresta berunjukrasa menolak dimutasi, diantaranya ada yang mengancam Kapolres dengan badik terhunus.

Sumber dikalangan anggota Polrestas setempat mengatakan, kemarahan anggota itu dipicu oleh mutasi yang dilakukan Kapolresta Parepare, AKBP Suprayitno, usai apel pagi, Rabu (19/9) seorang anggota mengawali, mengamuk dengan badik di tangan,  aksi itu mendapat dukungan anggota lainnya yang sama-sama terkena mutasi, jumlahnya makin membengkak hingga menjadi tontonan masyarakat dan situasi sulit dikendalikan Propam.   Kapolresta memerintahkan semua anggota berkumpul di aula untuk diberikan pengarahan, namun perintah komandan itu diabaikan, aksi terus berlanjut, sebagian anggota berusaha melerai rekannya malah jadi sasaran kemarahan.

Sedikitnya 150 anggota harus meninggalkan Parepare ke daerah tugas baru di Toraja Utara, Mamuju Utara, Luwu dan Enrekang, selain bintara diantaranya terdapat perwira pertama. Mutasi yang dilakukan AKBP Suprayitno, itu dianggap diskriminatif, dia pun menjadi sasaran kemarahan, dan demi keamanan dirinya Kapolres bertahan di ruangan kerjanya dengan pengamanan ketat dari personil provost.

Suprayitno membantah ada diskriminasi, kewenangan itu ada di Polda dan alasan untuk melakukan mutasi cukup kuat karena hasil kajian dewan jabatan dan kepangkatan. Menurutnya, jumlah personil di Polres tersebut over load perbandingannya mencapai 1 : 200, artinya satu anggota polisi melayani 200 warga. Sementara di empat daerah yakni Toraja Utara, Mamuju Utara, Luwu dan Enrekang, anggota kepolisian sangat kurang, ini karena lebih banyak yang menumpu di perkotaan.

Meskipun personil telah dikurangi lewat mutasi tersebut, perbandingannya masih mencapai 1 : 350. Itulah sebabnya masih akan ada mutasi lanjutan sehingga targetnya akan diratakan  mencapai perbandingan 1 : 700, katanya.

Aksi penolakan mutasi tak sebatas dilakukan para anggota, menjelang petang, anak dan istrinya pun turun arena menggelar unjukrasa lanjutan di halaman Polresta, membentangkan spanduk berisi penolakan mutasi hingga suasana semakin ramai dan masyarakat yang menonton ikut berbaur.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), Brigjen Pol Syahrul Mamma bersama Provost Polda mengunjungi Polresta Parepare, Rabu malam, setelah bertemu pengunjukrasa, mereka membubarkan diri, dan Kamis (20/9) pagi dilanjutkan dengan pertemuan tertutup Wakapolda dan para anggota.   Beberapa anggota yang menolak dimutasi berasalan bahwa mereka tidak pernah mendapat penyampaian sebelumnya, sehingga tidak ada kesiapan, ada juga yang mengaku baru pindah dari Ambon dan baru mau membangun kehidupan keluarga di Parepare. “Saya lama tugas di Ambon dan pindah ke sini (Parepare), kami baru mau membangun kehidupan dan masa depan anak-anak, sudah dimutasi lagi,” kata Ajun Inspekttur Polisi Satu (Aiptu) Parman.

Kepala Bidang Humas Polda Sulselbar, Kombes Pol Chevy A Sopari mengatakan, tindakan pembangkangan anggota terhadap mutasi seharusnya tidak boleh terjadi, ini adalah bentuk pelanggaran, apalagi dilakukan dengan ancaman terhadap pimpinan, mutasi itu dilakukan berdasarkan dewan pertimbangan jabatan dan kepangkatan.   Sumber di lingkungan Polda mengatakan, aksi yang dilakukan anggota, Rabu kemarin adalah pelanggaran disiplin dan etik, mereka akan dikenakan sanksi, apapun alasannya aksi itu adalah bentuk pembangkangan dan tabuh dilakukan dalam organisasi kepolisian, apalagi sampai membawa senjata tajam dan mengancam pimpinan. “Keputusan mutasi tidak akan berubah dan itu sudah final sebab berdasarkan hasil kajian,” katanya. [148]
sumber: suarapembaruan

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *