RASIONALITAS POLITIK DARI JAKARTA

Jiwa besar yang ditunjukkan Foke bisa jadi contoh kalangan elite politik nasional.

“Pemenang sesungguhnya adalah warga Jakarta. Pilkada Jakarta ini jangan kita ganggu karena ini menjadi barometer bagi pilkada di seluruh Tanah Air.”

Ucapan itu disampaikan dengan tegar oleh Fauzi Bowo (Foke), sekitar tiga jam setelah jadwal pilkada usai dan hasil hitung cepat sementara menunjukkan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama unggul dalam perolehan suara.

Di depan wartawan, Kamis (20/6) sore kemarin, Foke menunjukkan kebesaran hatinya. Ia bahkan sudah menelepon Jokowi dan memberikan ucapan selamat. Sang pemenang pun mengapresiasi sikap Foke dan bahkan dengan kerendahan hati senada, meminta bantuan Foke untuk membantunya mengurus Jakarta.

Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly Asshiddiqie, dan pengamat politik dari Universitas Indonesia Andrinof Chaniago menilai sikap yang diperlihatkan Foke mesti dicontoh para elite politik di Indonesia. Jimly mengatakan, elite politik harus bersikap dewasa dalam menyikapi setiap hasil pemilu kepala daerah.

Berdasarkan catatan Kementerian Dalam Negeri, mayoritas pelaksanaan pilkada pada 2011 berujung konflik dan gugatan ke MK. Dari 87 pilkada, 78 di antaranya digugat ke MK dengan 132 perkara teregistrasi.

Yang paling anyar adalah gugatan pilkada yang diselenggarakan di Provinsi Aceh pada 9 April 2012 lalu. Menurut data yang diperoleh SH, hingga 20 April 2012, MK telah menerima 11 gugatan dari pasangan calon yang bertarung di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Oleh karena itu, sikap yang ditunjukkan Foke tergolong “langka”. “Sikap ini jarang dan langka, walaupun konstitusi menyediakan ruang segala ketidakpuasan atas hasil pemilu,” ucap Jimly. Menurutnya, Jakarta bisa menjadi awal proses rasionalisasi politik. Dengan begitu, rasionalitas politik elite politik diharapkan semakin menjadi dewasa dalam waktu dekat.

Ia mengatakan, kedewasaan elite politik dalam menyikapi hasil pemilu kepala daerah penting untuk ditunjukkan ke masyarakat. “Jangan hanya dilihat secara hukum, saklek, hitam-putih. Saya kira ini poin dalam penyelenggaran kehidupan bernegara. Jangan hukum sekadar untuk hukum,” tuturnya.

Hal senada dilontarkan pengamat politik dari Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago. Ia mengatakan, sikap Foke patut dicontoh para calon gubernur atau calon wakil gubernur di provinsi lain yang akan masuk dalam gelanggang pilkada.

“Ini sesuatu yang luar biasa dan saya memberikan apresiasi sangat tinggi kepada Pak Fauzi Bowo. Ia secara elegan telah menerima kekalahan dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua dan memberi ucapan selamat kepada Pak Jokowi. Ini contoh pendidikan politik bagi bangsa dan negeri ini ke depan,” katanya.

Ia mengatakan, pilkada DKI Jakarta telah memberi contoh kepada provinsi atau daerah lain bagaimana proses pendidikan politik yang dewasa berlangsung dengan baik. ”Berpolitik yang dewasa dan sehat, itulah yang diperlihatkan pasangan yang bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta. Ini sesuatu yang positif bagi pendidikan politik. Jakarta sebagai sebagai barometer telah menunjukkan hal itu,” ia menambahkan.

Perlu Ditularkan

Secara terpisah, anggota Dewan Penasihat Pusat Partai Gerindra Martin Hutabarat mengatakan, kemenangan yang dicapai pada Pilkada DKI Jakarta memberikan pesan kepada para elite partai bahwa rakyat menuntut kesungguhan parpol dalam melayani rakyat.

Ketua Fraksi PDIP DPR Puan Maharani mengatakan, kesuksesan pilkada seperti di Jakarta, walau diwarnai banyak dinamika, harus ditularkan ke pelbagai daerah. “Meski kita berbeda pendapat, kita tetap sesama anak bangsa. Gelap, terang, tak apa, yang penting kita sama-sama menjaga,” katanya.

Ia mengatakan, elite politik memang dituntut menjaga etika berpolitik. Oleh karena itu, siapa pun yang menang dalam pemilu kepala daerah harus bisa menjadi pemimpin di atas seluruh golongan. Selain itu, semangat yang mengemuka dalam pemilu kepala daerah yang berjalan jujur dan demokratis harus bisa terus ditularkan dalam pemilu presiden.

Foke, Kamis petang, menyampaikan ucapan selamat kepada lawannya dalam Pilkada DKI Jakarta, Jokowi. “Betul, saat hitung cepat mendekati 90 persen, saya sampaikan selamat,” katanya, di Posko Kemenangan Dipo 61, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis petang.

Dengan adanya gubernur baru, Foke berharap amanah yang diberikan warga DKI dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Dia menegaskan, pemenang sejati Pilkada DKI Jakarta adalah masyarakat Jakarta.

Ia juga mengimbau warga Jakarta yang multikultur, etnis, dan multiagama itu dapat menjaga ketenangan, keserasian, serta kerukunan antarsesama. “Kepada masyarakat saya imbau menjaga ketenangan, menjaga keserasian, dan jaga kerukunan antarwarga di Jakarta, karena kemenangan ini milik Jakarta, bukan orang lain,” tuturnya.

Berakhir di MK

Data MK menyebutkan, sepanjang 2008 hingga 21 April 2012 terdapat 435 gugatan terkait pilkada. Dari 403 perkara yang sudah diputus, hanya 44 perkara yang diterima dan diputuskan dilakukan pemungutan suara ulang (PSU). Sebanyak 267 perkara diputuskan ditolak MK, sedangkan 84 gugatan tidak diterima dan delapan perkara ditarik kembali.

Direktur Jenderal (Dirjen) Otonomi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan membenarkan hal itu. Menurutnya, 90 persen pilkada yang diselenggarakan di Indonesia berujung di MK.

Hanya sedikit pasangan calon yang mampu legowo menerima kekalahannya dalam pilkada. “Prinsip mereka (peserta pilkada) berjuang sampai titik darah penghabisan,” ujarnya, dalam suatu kesempatan. (Yuliana Lantipo/Deytri Aritonang/Norman Meoko)
sumber : shnews

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *