BUNTUT DEMO RASKIN, ISTRI KADES MADUMA DIMUTASI KE SUKA BANGUN

Pandan, (Analisa). Sangat ironis, nasib yang dialami keluarga Kepala desa (Kades) Maduma, Santoni Rambe, usai melakukan unjukrasa akibat desakan warganya menyangkut Beras Miskin (Raskin) yang dimonopoli, istri Kades tadi yang juga PNS di lingkungan Pemkab Tapteng turut terkena imbas, dengan pemutasian hingga terkesan memisahkan keluarga, bahkan anak-anaknya.
Dalam surat mutasi tugas bernomor 643/BKD/2012 itu, istri Santoni Rambe, Anna Flora Hutabarat yang sebelumnya menjadi guru SDN No. 153019 Desa Aek Raso Kecamatan Sorkam Barat dipindah tugaskan menjadi guru SDN No. 153077 Desa Pulo Pakkat I, Kecamatan Suka Bangun berbatasan dengan Kecamatan Batangtoru Kabupaten Tapanuli Selatan berjarak kurang lebih 100 kilometer dari Kecamatan Sorkam Barat.

Kades Maduma, Santoni Rambe, Rabu (19/9) mensinyalir, pemutasian istrinya itu erat kaitannya dengan imbas aksi demo yang dilakukan dirinya bersama warga Maduma saat Bupati Tapteng menggelar pesta pemecahan rekor MURI “Bakar ikan terpanjang di Indonesia sepanjang 7 Km,” pada Kamis (23/8) lalu.

Persoalan demo, akibat kurangnya jatah Raskin di desa yang dipimpinnya, kemudian tak tepatnya pendataan Rumah Tangga Sasaran (RTS) penerima Raskin, tak sedikit penerima merupakan oknum PNS Pemkab Tapteng sendiri.

Akibatnya, Kades yang acap kali dituding warga telah ‘memainkan’ jatah Raskin tersebut. Merasa tak melakukan hal itu, Kades yang penuh desakan warga ini langsung membawa warganya mempertanyakan langsung kepada Bupati Tapanuli Tengah, Raja Bonaran Situmeang guna membuktikan bahwa dirinya tidak tahu menahu dengan aksi monopoli penjatahan Raskin di desanya tersebut.

Bertepatan saat demo, Bupati menghadiri pelaksanaan pemecahan rekor MURI bakar ikan terpanjang di pantai Binasi, Kecamatan Sorkam Barat, Tapteng bersama sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat di Sumatera Utara.

“Saya merasa mutasi ini erat kaitannya dengan unjukrasa Raskin lalu. Aksi itu memang Saya yang pimpin akibat desakan masyarakat yang memang menuntut hak mereka sebagai keluarga kurang mampu atau yang berhak menerima Raskin. Namun, buntut aksi penyampaian pendapat dan keluhan warga Maduma itu, tepat Senin (17/9), istri saya, Anna Flora Hutabarat ditemui UPT Disdik Kecamatan Sorkam Barat guna menyerahkan Surat Keputusan (SK) mutasi jabatan,” ungkap Santoni.

Mendengar dimutasi hingga terkesan tak wajar itu, Santoni spontan tersadar bahwa dirinya turut ditindas dengan aksi kekuasaan. “Terus terang, saya dan istri sangat terkejut. Ketika ditanya kepada UPT Disdik Kecamatan Sorkam Barat terkait alasan maupun dasar pemutasian itu terjadi, pihak UPT Disdik hanya menjawab, tidak tahu menahu,” ucap Santoni menirukan ucapan UPT Disdik Sorkam Barat.

Santoni mengaku, proses pemutasian tak wajar dan tak mendasar ini, akan ditindak lanjuti keluarganya, bahkan sampai ke Komnas HAM. Sebab, menurut Kades Maduma ini, apa yang diperjuangkannya itu hanya kepentingan masyarakat Maduma yang berasal dari keluarga kurang mampu.

“Saya akan bawa persoalan ini ke Komnas HAM. Sebab, sejatinya saya tidak ada bermaksud macam-macam terkait unjukrasa Raskin kemarin, hanya membuktikan bahwa saya tidak melakukan penyelewengan penyaluran Raskin, di samping juga memperjuangkan jatah Raskin itu untuk masyarakat miskin di Desa Maduma. Itukan merupakan hak rakyat yang kurang mampu. Tetapi kenapa yang menjadi korban saat ini malah istri saya yang dimutasi, bahkan harus berpisah dengan keluarga serta anak-anak yang masih bersekolah dan kecil-kecil. Ini sangat tidak adil, dan terkesan otoriter,” ketusnya.

Pisahkan Keluarga

Anna Flora Hutabarat (42) ditemui Analisa mengaku, shock berat dan merasa tak mampu menjalankan amanah yang dibebankan secara paksa terhadap dirinya tersebut. Pasalnya, jarak lokasi pemutasian dimana dirinya ditugaskan sebagai guru SDN No. 153077 Desa Pulo Pakkat I, Kecamatan Suka Bangun sangat jauh, bahkan memakan waktu 3-4 jam perjalanan bila menggunakan jasa angkutan umum. Untuk mengoptimalkan tugasnya yang baru itu, Anna Flora Hutabarat terpaksa harus berpisah dengan keluarga dan anak bungsunya yang masih berusia tiga tahun.

“Saya tak tahu apa alasan di mutasi. Yang jelas, ini sudah tak adil. Lokasi sekolah itukan luar biasa jauh jaraknya dengan kediaman saya. Ratusan kilometer jaraknya itu, Pak. Sementara, anak saya juga harus mendapatkan perhatian dan kasih sayang,” keluh Anna sambil menahan tangis.

Dikatakan Anna, akibat mutasi itu, terimbas pada profesi dirinya sebagai guru harus terbengkalai dan tak berjalan optimal untuk menjalankan proses belajar mengajar. Bahkan, untuk memenuhi kepentingan keluarga, Anna Flora memprediksi dirinya dapat mengajar hanya dua kali dalam sepekan.

“Akibat mutasi ini, besar kemungkinan saya akan banyak libur atau bahkan mengajar hanya dua kali seminggu. Kalau kemungkinan berpisah dengan anak bungsu saya yang masih tiga tahun, itu pasti dlakukan,” keluh Anna lagi.

Menurutnya, karena mutasi jabatan yang dialaminya itu, dirinya tidak memungkinkan untuk mengajak suaminya untuk pindah ke Kecamatan Suka Bangun. Mengingat suaminya, sebagai Kepala Desa Maduma yang senantiasa mengurus kebutuhan masyarakat Maduma.

Kepala BKD Tapteng, R Situmeang saat dikonfirmasi sejak Rabu (19/9) hingga Kamis (20/9) tak berhasil ditemui dengan berbagai alasan. Bahkan telephone dan pesan singkat tak kunjung mendapat jawaban. Demikian halnya, Kabag Humas Setdakab Tapteng, Iwan RM Sinaga yang enggan berkomentar, bahkan menyarankan langsung konfirmasi dengan Kepala BKD Tapteng terkait pemutasian tersebut.
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *