BELUM PENUHI STANDAR, EKSPOR HORTIKULTURA SUMUT MASIH LESU

MedanBisnis – Medan. Pertumbuhan ekonomi Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang melambat, ternyata masih tetap berdampak pada dunia industri di wilayah Asia Timur terutama China yang menjadi negara tujuan utama ekspor hortikultura Sumatera Utara (Sumut). Keputusan dunia industri China untuk memangkas produksi, membuat permintaan komoditas andalan asal Sumut ini masih lesu.
Meski, penurunan ekspor sebenarnya bukan hanya karena permintaan yang sepi dari China tetapi juga merupakan imbas dari masih rendahnya mutu produk hortikultura Sumut.

“Produk dan mutu hortikultura Sumut masih banyak yang belum memenuhi standar negara pengimpor. Sementara banyak produsen dari negara lain yang memiliki produk sama namun sudah sesuai standar negara tujuan, misalnya produknya sudah organik,” kata pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Medan, M Ishak, di Medan, Jumat, (21/9).

Konsepsi pengembangan produksi Sumut perlu dilakukan agar dapat bersaing di pasar domestik dan internasional. Dengan begitu, ekspor bisa diperluas dan diperbanyak ke negara-negara lain, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani lokal. Apalagi, daerah yang memiliki potensi serta prospek yang baik untuk pertanian masih cukup besar di Sumut, terutama di Tanah Karo dan daerah Tapanuli.

Ia mengatakan, untuk mendapatkan produk yang lebih bermutu, bisa didapatkan dengan menerapkan penanaman yang baik, mengurangi penggunaan pestisida hingga di bawah maksimum residu, penerapan teknologi budidaya ramah lingkungan dan fasilitas sarana pasca panen.

Pemerintah hanya perlu memaksimalkan semua elemen yang ada baik itu dinas-dinas terkait maupun asosiasi untuk menemukan cara pengembangan yang tepat seperti pengembangan sistem perbenihan yang murah, tepat waktu dan mudah dijangkau petani.

“Hingga saat ini masih banyak petani yang tidak tertarik mengembangkan pertanian organik. Padahal, potensi untuk produk ini cukup besar terutama dari Eropa,” katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut, H Bidar Alamsyah melalui Kasie Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan Disperindag Sumut, Fitra Kurnia, mengatakan, ekspor komoditas hortikultura termasuk di dalamnya cabai kering, kacang tanah, asam jawa dan bibit tanaman, dari segi nilai maupun volume memang mengalami penurunan.

“Penurunan ini karena negara China memangkas produksi hingga mempengaruhi permintaan bahan baku terutama untuk komoditas hortikultura. Lesunya perekonomian Eropa dan AS memang berdampak luas karena perdagangan internasional saling berkaitan,” katanya.

Selain ke China, komoditas hortikultura  ini juga banyak dikirim ke Taiwan, Jepang, Malaysia dan Belanda untuk bahan campuran mie instan dan produk makanan lainnya.

Berdasarkan data Surat Keterangan Asal (SKA) Disperindag Sumut, nilai ekspor komoditas hortikultura mencapai US$ 11,25 juta dengan volume 24.607 ton atau turun sebesar 1,03% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu dengan nilai US$ 11,368 juta dan volume 22.615 ton. Sementara untuk periode Agustus 2012, nilai ekspor hortikultura mencapai US$ 1,237 juta dengan volume 3.754 ton. ( elvidaris simamora)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *