PEREDARAN NARKOBA MARAK DI SIANTAR

TRIBUN-MEDAN.com, PEMATANGSIANTAR – Keberadaan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Pematangsiantar justru dinilai tidak berdampak. Peredaran dan penyalahgunaan narkotika di Pematangsiantar, hingga September 2012 masih tergolong tinggi.

Seperti disampaikan oleh Ketua Gerakan Pemuda Demokrat Indonesia Perjuangan (GPDIP) Pematangsiantar, Carles Siahaan, Jumat (21/9/2012) menanggapi tingginya jumlah tangkapan kasus Narkotika Polres Kota Pematangsiantar untuk tahun 2012. “Berarti BNN yang sudah setahun di Kota ini tidak berfungsi,” ujarnya.

Sebab, menurut data yang diperoleh dari Satuan Narkoba Polres Kota Pematangsiantar melalui Kasat Narkoba, AKP Sofyan, hingga September 2012 jumlah 43 kasus dengan jumlah tersangka 53 orang. Dengan jumlah tersangka laki-laki 48 orang. Sementara dilihat dari segi usia yaitu dibawah 15 tahun 2, antara 16-19 tahun 3, usia 20-24 tahun 8, usia 25-29 tahun 13, danĀ  diatas 30 tahun 27.

Jumlah ini tidak jauh beda dengan jumlah dua tahun sebelumnya. Dimana, tahun 2010 terdapat 66 kasus dengan 88 tersangka. Dengan rincian usia dibawah 15 tahun 2, antara 16-19 tahun 7, usia 20-24 tahun 12, usia 25-29 tahun 22, diatas 30 tahun 44. Dengan jenis kelamin laki-laki 78, dan perempuan 10. Dan pada tahun 2011 jumlah kasus terdapat 76 kasus dengan jumlah 95 tersangka. Lebih lanjut disampaikan, usia antara 16-19 tahun 3, usia 20-24 tahun 14, usia 25-29 tahun 13, diatas 30 tahun 65. Laki-laki 88 dan perempuan 7.

Untuk itu, dikatakan Carles, agar pemerintah memikirkan ulang pengucuran dana yang begitu besar bagi BNN. Pasalnya, pasilitas yang mewah dengan gedung yang megah sangat mengecewakan dengan hasil kinerjanya. “Lebih baik dialihkan ke pos anggaran lain dana itu, kenapa musti menghamburkan uang, padahal banyak hal yang perlu dibenahi,” ujarnya.

Bahkan, jika memang pemerintah merasa perlu mempertahankan BNN, perlu dilakukan perbaikan dalam tubuh BNN. Diimbau Charles, agar pemerintah benar-benar menempatkan orang-orang yang berkompeten. Sehingga, melalui sosialisasi yang dilakukan, bisa menekan angka perdaran dan penyalahgunaan narkotika. “Kita melihat, BNN tidak berfungsi,” katanya.

Sementara itu, saat wartawan hendak mengonfirmasikan hal ini kepada Kepala BNN Pematangsiantar, Ahmad Yani Damanik tidak berada di kantornya. Menurut stafnya, sedang berada di luar kota.
sumber: medan.tribunnews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *