PEMBORGOLAN TAHANAN AKAN MENJADI SPO

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Terkait Standar Operasional Prosedural (SOP) yang diterapkan Kejari Medan untuk memborgol seluruh tahanan ketika menuju Pengadilan Negeri (PN) Medan, dengan alasan peningkatan keamanan yang dilakukan pasca larinya Sharen, pihak Kejatisu pun angkat bicara.

Kasi Penkum Kejati Sumut Marcos Simaremare mengatakan, setiap instansi boleh melakukan tindakan apapun asalnya yang dilakukan tersebut untuk melancarkan proses pekerjaan. Ia mengaku, tidak ada salahnya juga Kejari Medan melakukan pemborgolan kepada terdakwa sebelum bersidang di PN Medan, untuk menghindari kejadian serupa yaitu larinya terdakwa narkoba Sharen.

“Tentu setiap ada kejadian menghasilkan inspirasi untuk melakukan sesuatu hal. Saya pikir Kejari Medan belajar dari pengalaman. Tentu mereka tidak mau kejadian serupa terulang kembali. Meski di Kejari-kejari Indonesia lainnya perlakukan tersebut tidak dilakukan, tetapi kalau poinnya untuk kelancara pekerjaan tidak ada yang harus dibatasi,” ungkapnya di ruang kerjanya, Jumat (21/9).

Marcos juga mengatakan, saat ini pemborgolan terdakwa ketika dibawa ke persidangan sudah menjadi prosedural. Hal tersebut ia ungkapkan akan dilakukan secara simultan. Namun untuk menghindari ketidaknyamanan terdakwa saat proses persidangan, borgol akan dibuka saat sidang saja.

“Setiap institusi membuat kebijakan yang bertujuan untuk mempercepat perbaikan persidangan cukup baik. Sementara untuk pengawalan dari pihak Kepolisian, Kejari saya lihat pasti akan melakukan penyesuaian dengan jumlah tahanan yang akan mereka bawa. Kan tidak mungkin mereka mau kejadian sama terulang kembali,” ungkapnya.

Seperti diketahui, penerapan Standar Operasinal Prosedur (SOP), dengan cara memborgol setiap tahanan yang diterapkan pengawal tahanan (Waltah) kejaksaan, pasca larinya terdakwa kasus sabu-sabu Sharen Patricia alias A Ling, ternyata membuat sejumlah tahanan baik wanita maupun pria kesal.

Hal itu dikarenakan, sejumlah tahanan merasa terganggu dengan penerapan SOP tersebut. Walaupun secara standarisasi pengamanan, pemborgolan tahanan itu wajib dilaksanakan pihak petugas waltah. Namun, penerapan SOP tersebut belakangan membuatĀ  sejumlah tahanan merasa tidak nyaman dengan hal tersebut.

“Woi, bukalah borgolnya ini. Dari tadi aku diborgol, tidak dibuka-buka,” ujar Halimah, yang merupakan salah seorang terdakwa dalam kasus sabu-sabu saat berada di sel sementara PN Medan, Kamis (20/9) lalu.

Semestinya, kata Halimah, bila sudah diletakkan di dalam sel, pihak waltah harus membuka borgol tersebut. “Jadi kami gak susah bergerak,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah tahanan laki-laki yang juga diborgol terlihat mengeluh saat digiring menuju sel sementara PN Medan. “Hadooh, gara-gara semalam ada yang lari, terpaksa kita diborgol,” kata seorang terdakwa sambil berjalan menuju sel tahanan.

Di lain hal, sejumlah waltah yang diwawancari soal pemborgolan para terdakwa itu mengatakan, bahwa SOP tersebutĀ  memang wajib dilaksanakan. “Ini sudah kewajiban. Jadi terdakwa harus diborgol demi keamanan,” kata salah seorang waltah sambil menggiring para tahanan.
sumber: medan.tribunnews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *