NELAYAN ABDYA TANGKAP KAPAL IKAN SIBOLGA

Blangpidie–andalas Sebanyak 20 anak buah kapal (ABK) dan 4 nahkoda beserta dua unit kapal ikan asal Sibolga, Sumatera Utara, ditangkap warga nelayan tradisional Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Mereka diduga melanggar batas wilayah penangkapan ikan, dengan menggunakan jaring muroami di bawah 4 mil. Sehingga pendapatan nelayan lokal semakin berkurang.

Penangkapan dua kapal tangkap nelayan asal Sibolga itu, Selasa (18/9) di wilayah perairan Seumayam berkisar pukul 17.00 WIB. Oleh tiga bot nelayan setempat itu, selanjutnya diserahkan kepada Polisi Airud dan Satpol Air di dermaga PPI Ujung Serangga Susoh.

“Nelayan Sibolga itu seringkali menangkap ikan dekat dengan pantai. Sehingga, nelayan kita yang hanya menggunakan alat tangkap tradisional, hasil tangkapan ikannya merosot drastic,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Abdya, Azwar MR Spd MM kepada andalas, Kamis (20/09).

Selama ini, lanjutnya, perairan Abdya menjadi sasaran empuk nelayan luar yang notabene menggunakan alat tangkap modern dan selalu mendekat ke pantai. “Alat tangkap modern kan ada aturan penggunaannya. Tapi, nelayan luar sering melanggar, jadi pihak kepolisian harus bersikap arif jangan melepaskan bila terbukti bersalah,” ujarnya.

Kapolres Abdya AKBP Eko Budi Susilo Sik melalui Kasatpol Air Polres Abdya, Ipda Karnofi didampingi Danpos Airud Abdya, Brigadir Ajuwin, membenarkan kejadian tersebut. Saat ini, nelayan asal Sibolga itu diamankan di pangkalan pelabuhan PPI Ujung Serangga Susoh. “Persoalan ini akan kita proses sesuai dengan aturan yang berlaku. Saat ini ABK dan Nahkodanya kita amankan di Pos Airud Ujung Serangga,” jelasnya.

Nelayan asal Sibolga itu sedang dalam proses penyelidikan meski nelayan tersebut juga merupakan nelayan asal Indonesia, jika menyalahi aturan, hukum tetap ditegakkan. “Untuk sementara mereka kita proses karena tidak memiliki ijin tangkap ikan di perairan Abdya. SIUP dan SIPI nya hanya untuk wilayah Singkil,” tambahnya.

Dua unit kapal ikan yang diamankan itu mempunyai nama lambung Putra Silaban tujuh dan Putra Silaban Lapan, menurut Karnofi tidak memiliki Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI), dan mereka terancam kurangan enam tahun penjara dan denda 2 milyar. “Menurut peraturan perundang-undangan, bila tidak ada ijin mereka dikenakan pasal 93 undang-undang perikanan nomor 31 tahun 2004,” katanya.

Terkait penangkapan yang dilakukan nelayan tradisional Abdya tersebut, Karnofi mengucapkan terima kasih atas inisiatif yang dilakukan nelayan itu. ”Kita juga pernah mengatakan pada nelayan bila memang merasa nelayan lain melanggar ya harus diamankan dan akan kita proses sesuai hukum,” pungkasnya. (AS)
sumber : harianandalas

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *