MASYARAKAT CEMASKAN RENCANA EKSPLOITASI SENG DAN TIMAH HITAM

Sidikalang, (Analisa). Warga cemas terhadap angin surga paparan Agung Surya Irawan, Manajer Tata Kelola Resiko dan Kepatuhan PT Dairi Prima Mineral (PT DPM) terkait rencana eksploitasi seng dan timah hitam di Desa Sopokomil Kecamatan Silima pungga-pungga, Kabupaten Dairi.
Pada sosialisasi dihadiri Wakil Bupati Dairi, Irwansyah Pasi SH di Sidikalang, Selasa (18/9), Agung menjelaskan segudang masa depan tanpa sedikit bicara kelemahan ataupun bahaya.

Peserta notabene penduduk lokal khawatir terhadap potensi kerusakan lingkungan. Bahkan, mereka menduga ada potensi pembohongan publik. Hal itu didasari uji kimia terhadap bahan tambang dimaksud. Dari analisa terhadap dua gumpalan bebatuan terdahulu, ternyata tersimpan 53 gram emas (aurum). Logam mulia itu dijual seharga Rp 300 ribu per gram. Kegiatan tidak dapat dilanjutkan berhubung ketiadaan izin dari pemerintah.

Pada bagian lain, warga menyebut, kehadiran investasi itu menyisakan luka. Di antaranya, adanya pemutusan sepihak atas kontrak kerja senilai Rp 5 milliar. Penduduk mengusul pengobatan luka lama sebelum melangkah ke step berikut.

Namun, kerisauan tersebut direspons gamblang oleh Agung. Diutarakan, pihaknya mentaati seluruh ketentuan dan ingin menjadi perusahaan terbaik di level internasional.

Diterangkan, kandungan 14 persen seng (Zn) dan timah hitam (Pb) sebesar 9 persen tersebut adalah kategori high grade, yakni terbaik di dunia. Saat processing, mineral itu akan ditingkatkan hingga 64 persen Zn dan 55 persen Pb.

Pihaknya akan memproduksi seng 230 ribu ton seng dan Pb 110 ribu ton per tahun. Ditarget, prospek anjing hitam itu ditangani selama 7 tahun dimana kandungan deposit sebanyak 7 juta ton.

Diutarakan, bisnis itu punya karakteristik. Yaitu, satu satunya tambang bawah tanah (under ground mining) di Indonesia lantaran berada di kawasan hutan lindung. Menyusul perolehan izin pinjam pakai hutan lindung seluas 53,11 hektar dari Menteri Kehutanan medio Juli 2012 meliputi Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat, Agung menyatakan, segera melangkah ke tahap konstruksi. Tahapan ini membutuhkan waktu selama dua tahun.

Sementara itu, pengolahan limbah (tailing) dilakukan di luar hutan. Proses itu tidak mempergunakan bahan kimia berbahaya semisal mercuri atau sianida. Aktivitas itu mengutamakan air. Begitupun, limbah dikategorikan B3 lantaran berjumlah banyak.

Penyampaian informasi diikuti 40 peserta di antaranya Komandan Kodim 0206/D Letkol Inf Benny Satria, jajaran Balai Konservasi Sumber Daya Hutan Sumut, aparatur Pemkab Dairi dan beberapa warga.

Lebih lanjut, Agung menyebut, perusahaan ini membutuhkan 800 pekerja. Totalnya bakal mencapai ribuan dimana kontraktor juga menampung tenaga kerja. Akan muncul manfaat ganda semisal bisnis catering, office boy dan sopir. Manajemen menegaskan, mengutamakan potensi lokal dalam setiap rekruitmen.

Pada bagian lain, delegasi PT DPM di antaranya Winarto menerangkan dari aspek pengelolaan lingkungan dan Anang menjelaskan alokasi dana pengembangan kemasyarakatan. Para intelektual itu menawarkan isu kesejahteraan. (ssr)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *