BUJANG RABA TERANCAM

JAMBI, KOMPAS.com- Ekosistem Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba) di hulu Sungai Batanghari, Jambi, dalam kondisi terancam oleh aktivitas perkebunan sawit dan tanaman industri. Padahal, hasil studi menyebutkan hutan ini menyerap karbon sangat tinggi, 320 ton per hektar.

Hutan yang menghampar di hulu sungai ini merupakan perpaduan Taman Nasional Kerinci Seblat, sejumlah hutan lindung, hutan produksi terbatas, dan hutan desa. Total luasnya 108.000 hektar.

Ekosistem Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba) ini sebagian besar merupakan hutan primer yang mampu menyerap karbon 320 ton per hektar. Selain sebagai muara sub-sub daerah aliran sungai, perlintasan satwa liar seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), kawasan ini dikelola turun temurun oleh masyarakat adat.

Akan tetapi, menurut Direktur Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Rakhmat Hidayat, pengrusakan hutan meningkat dalam dua tahun terakhir. Pembukaan lahan setidaknya mencapai hampir 20.000 hektar di areal perkebunan sawit dan hutan tamanan industri yang membelah kawasan ekosistem bertopografi curam, dengan kemiringan di atas 40 persen tersebut.

Dia melanjutkan, pembukaan hutan juga mengancam konflik dengan satwa liar. Masyarakat di sejumlah dusun tua dalam kawasan hutan itu mengeluh harimau sumatera makin sering masuk ke sekitar permukiman warga.

Kedatangan harimau diduga karena mereka terusik ruang jelajahnya dibuka untuk perkebunan dan tanaman industri yang marak dalam setahun ini.
sumber: kompas

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *