PT G-RESOURCES ANCAM HENTIKAN PRODUKSI

MEDAN – PT G-Resources Martabe mengancam menghentikan proses produksi dan merumahkan karyawannya jika kisruh pembuangan limbah tambang tak kunjung selesai.

“Kami sudah sampai pada titik untuk upaya merumahkan karyawan.Ini bukan ancaman, tapi ini merupakan keharusan karena pipa pembuangan air ke Sungai Batangtoru yang belum juga terpasang mengganggu proses produksi. Dalam minggu-minggu depan, kalau tidak ada solusi terpaksa kami lakukan,” kata Direktur PT G-Recources Martabe, Washington Tambunan, hari ini.

Tangki penampungan air sisa proses produksi yang sudah diproses lewat instalasi pemurnian air sisa proses (waste water polishing plant/WWPP) sudah hampir penuh. Sebab,daya tampung tangki untuk tiga bulan. Pipa pembuangan yang akan dipasang itu sepanjang 3,2 kilometer, sesuai dengan jarak instalasi penampungan air sisa proses ke Sungai Batangtoru. Seharusnya, pipa itu sudah selesai pada 18 September 2012.

“Tapi, sampai sekarang belum bisa dilakukan. Makanya manajemen berpikir akan menghentikan proses produksi. Maka, karyawan juga dirumahkan secara bertahap,” tukasnya.

Manager Komunikasi PT Agincourt Resource, Katarina Siburian menambahkan, jumlah karyawan perusahaan tambang emas itu sebanyak 2.000 orang yang 70 persen diantaranya merupakan warga Kecamatan Batangtoru.

Komisaris PT G-Resources Martabe sekaligus Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Anwar Nasution menjelaskan,air yang dibuang dari tambang ke Sungai Batangtoru merupakan air baku mutu yang sudah diproses WWPP yang dimiliki PT G-Resources Martabe. Status baku mutu itu diperoleh dari kajian analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang disetujui Bupati Tapsel Ongku P Hasibuan pada Maret 2008, sesuai dengan Kepmen LH No 202/2004, tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Pertambangan Bijih Emas.

Pihaknya berusaha mensosialisasikan dan melakukan pendekatan dengan masyarakat agar mereka lebih mengerti.

Menurut informasi dari PT G-Resources, air yang keluar dari pabrik akan mengalami proses detoksifikasi dan diflokulasi sebelum dialirkan ke fasilitas penampungan material sisa tambang (tailing storage facility/ TSF), yang dipakai untuk menampung material sisa pengolahan,seperti kerikil,pasir dan endapan lain. Air hasil detoksifikasi dan flokulasi tersebut dijaga dalam ketinggian 1 sampai 2 meter,kemudian disirkulasi kembali sebagai air proses saat kemarau. Kalau dalam curah hujan yang tinggi, kelebihan volume air di TSF dipompakan ke WWPP yang sudah sesuai baku mutu tersebut.

Anggota Komisi D DPRD Sumut, Ajib Shah mengatakan, perusahaan harus memikirkan ulang rencana merumahkan karyawan tersebut karena berpotensi menimbulkan masalah baru. Dia meyakini, akan ada solusi untuk menuntaskan persoalan penolakan warga tersebut.
sumber: waspada

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *