MAS KAWIN KARO UNIK

Irmayani (Medan), Sebagai mahasiswa Antropologi USU, satu hari saya mendatangi dosen departemen ini yang juga redaktur Sora Sirulo. “Kak, saya mau menulis tentang sangkep sitelu,” kataku. “Apa menariknya untuk kamu yang orang Jawa tentang sangkep sitelu?” Dia bertanya.  “Saya tertarik pada  mas kawin,” jawabku.
Atas bimbingannya, saya mencari hal-hal yang berhubungan dengan mas kawin di  internet. Kemudian saya bandingkan dengan etnis lain. Ternyata ada hal menarik yang membuat saya penasaran.

Banyak etnis membuat mas kawin dengan patokan harga sangat tinggi, terutama etnis Toba. Hal sama terjadi di Minangkabau dengan uang jampuik yang didasarkan pada kedudukan sosial pihak perempuan. Di Nias tak ubahnya. Terkadang mas kawin mencapai nilai puluhan juta rupiah.

Suku Karo sedikit lain. Mas kawin atau yang dikenal dengan batang unjuken hampir tidak memiliki nilai ekonomi. Jumlah maksimal sekitar 400 ribu rupiah. Jika digabung dengan biaya-biaya lain untuk si ngalo ciken-ciken, perbibin, dll. hanya mencapai 1,3 juta hingga 1,5 juta rupiah (Tentu tidak termasuk biaya pesta).

Banyak etnik lain bertengkar karena jumlah mas kawin. Hal ini jarang terjadi di masyarakat Karo. Bagi orang Karo, mas kawin sepertinya hanya perlambang.

Tapi, tunggu dulu. Apa memang betul-betul hanya perlambang? Tunggu hasil penelitian saya selanjutnya.
sumber : sorasirulo

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo, Momo Man Banta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *