PEDAGANG BUKU LAPANGAN MERDEKA MENGADU KE LBH MEDAN

Medan-andalas Setelah mendatangi fraksi-fraksi di DPRD Kota Medan, kini para pedagang buku yang berjualan di Lapangan Merdeka Medan juga mendatangi kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Medan di Jalan Hindu Medan, Jumat (14/9) sore.

Ketua Asosiasi Pedagang Buku Lapangan Merdeka (Aspeblam) Drs M Simangunsong mengatakan, sejumlah pedagang buku di Lapangan Merdeka berharap kepada LBH Medan agar dapat membantu permasalahan yang terjadi antara pedagang dan Pemerintah Kota (Pemko) Medan.

”Kami datang ke sini, berharap agar pihak LBH dapat membantu permasalahan penggusuran kios pedagang buku atas pembangunan Skybridge (jembatan penghubung) Lapangan Merdeka dengan Stasiun Kereta Api,” ujar M Simangunsong.

Sementara Ketua Harian Aspeblam Donal Sitorus mengatakan, saat ini para pedagang tengah mengalami teror secara psikologis dari pihak Pemko Medan atas pembangunan skybridge yang akan merobohkan 20 kios pedagang buku.

“Kami sudah diteror secara psikologis. Pemko Medan akan melakukan penggusuran terhadap kios-kios pedagang buku, padahal kami berada atau ditempatkan di lokasi itu ada dasar hukumnya,” terang Donal.

Dia menceritakan, 180 kios buku di Lapangan Merdeka rencananya akan di pindahkan ke kawasan Perumnas Mandala. Namun pihak Pemko Medan hanya menyampaikannya melalui media, tidak bertemu langsung dengan para pedagang.

“Kami berdagang buku di sini punya dasar hukum. Pemko Medan tidak pernah memberitahukan langsung kepada pedagang rencana relokasi ke Mandala. Informasi ini kami tahu melaui media dan mengatakan proyek senilai Rp 18 miliar ini merupakan program nasional,” ujarnya.

Para pedagang, katanya, sebenarnya terbuka dan siap untuk diajak berdiskusi mengenai relokasi, namun hingga saat ini pihak Pemko Medan belum pernah melakukan itu. “Jelas kecewalah karena tidak adanya niat Pemko Medan membicarakan masalah relokasi itu dengan kami,” tandasnya.

Donal mengaku, pihaknya mendukung rencana pembangunan skybrigade, tapi janganlah Pemko Medan menganggap para pedagang buku benda mati yang bisa dipindahkan begitu saja. Dengan nada tegas, Donal mengancam akan melakukan aksi turun ke jalan jika dalam waktu dekat tidak ada kejelasan dari Pemko Medan.

“Kalau pihak Pemko Medan tidak mau membicarakan kemana kami akan direlokasi, kita akan menolak relokasi dan akan turun ke jalan. Dalam relokasi harusnya ada komunikasi antara Pemko dengan pedagang untuk mencari tempat yang strategis, tidak mematikan usaha dan harus mempunyai payung hukum,” ucapnya.

Dia juga meminta Wali Kota Medan Rahudman Harahap berlaku adil. Pasalnya jika  mau memindahkan para pedagang  ke Mandala, wali kota semestinya mencabut terlebih dahulu SK dan harus dirapatkan ke DPRD Medan.

“Kenapa bukan Merdeka Walk aja yang dipindah, kenapa harus kami. Padahal kami sudah ada sejak tahun 1960,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Wakil Direktur LBH Medan, Muslim Muis mengatakan, Kota Medan di masa kepemimpinan Rahudman Harahap memang terus menunjukkan eksistensi di tingkat nasional. Tapi yang sangat disayangkan di masa kepemimpina Rahudman pula penggusuran kian  marak terjadi.

“Rahudman itu pelaku penggusuran pertama di kota Medan. Contoh besarnya dia menggusur pedagang buku Lapangan Merdeka yang jelas-jelas sudah memiliki SK dan sudah ada sejak tahun 1960-an lalu,” ujar Muslim Muis.

Untuk itu, pihaknya akan terus mendukung dan memberi perlindungan hukum atau advokasi kepada para masyarakat yang terkena penggusuran tersebut. “Kalau perlu kita gugat wali kota sekarang juga,” ujarnya. (ben/siong/fel/tha)
sumber : harianandalas

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *