NAMA BANDARA BARU DI KUALANAMU HARUS SULTAN SERDANG

Hasil Kajian Riset Ilmiah Litbang MABMI Deliserdang 2012

Lubukpakam, (Analisa). Munculnya usulan Sultan Serdang sebagai alternatif nama bakal bandar udara (Bandara) internasional di Kualanamu, Kabupaten Deliserdang, yang digagas lembaga dan tokoh melayu merupakan kewajaran. Dari kajian riset bidang Litbang Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Deliserdang tahun 2012, penamaan terhadap bandara baru di Kualanamu seharusnya diberi nama Sultan Serdang.
“Dari hasil riset kami selaku bidang Litbang, atas perintah Ketua MABMI Deliserdang, hasil ini dapat kami pertanggungjawabkan secara ilmiah, seharusnya bandara baru di Kualanamu menggunakan nama Sultan Serdang” papar Wakil Ketua Bidang Litbang MABMI Deliserdang periode 2007-2011 Azizul Kholis SE MSi dihadapan ratusan tokoh melayu pada Musyawarah Daerah (Musda) VI MABMI Deliserdang di hotel Emerald Garden, Medan, Minggu (9/9).

Alasan utama penamaan tersebut dikarenakan Sultan Serdang V yakni, Tuanku Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah merupakan salah satu tokoh pejuang ditandai dengan penerimaan anugerah Bintang Mahaputra Adi Pradana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2011 lalu.

Kemudian setengah dari areal pembangunan bandara, sekira 60 hektar merupakan tanah yang punya historis dengan sejarah dan keberadaan Kesultanan Serdang serta masih terdapatnya situs sejarah dari kerabat Kesultanan Serdang.

Dari kajian riset yang dilakukan Litbang MABMI Deliserdang ungkap Azizul, ternyata secara empiris di Pulau Sumatera bahkan di Indonesia banyak ditemukan bandara menggunakan nama raja atau sultan untuk mengabadikan sejarah kejayaan masa lampau agar sejarah kerajaan dan kesultanan lebih terjaga. lestari dan dikenal luas.

“Ini menurut kami penting sebagai upaya melakukan internasionalisasi tokoh dan sejarah Indonesia yang semakin banyak dilupakan” tandas Azizul yang juga Sekretaris Dewan Riset Daerah Provinsi Sumut.

Di Pulau Sumatera, setidaknya ada banyak raja atau sultan yang menjadi nama bandara di antaranya, Bandara Sultan Iskandar Muda (Banda Aceh-NAD), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru- Riau), Sultan Thaha Syarifuddin (Jambi), Radin Inten II (Bandar Lampung – Lampung), Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang-Sumatera Selatan) dan Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang – Kepulauan Riau)

Sedangkan di luar pulau Sumatera, nama bandara yang menggunakan nama Sultan yakni, bandara Sultan Muhammad Salahuddin (Bima – Nusa Tenggara Barat), Raja Ampat (Pulau Gag – Papua), Sultan Babullah (Ternate – Maluku Utara), Sultan Jalaluddin (Gorontalo) dan Sultan Hasanuddin (Makassar – Sulawesi Selatan).

Dari kacamata riset tambah Azizul, jumlah bandara yang di Indonesia sebanyak 289 bandara. dan hanya 47 bandara menggunakan nama orang baik sultan, pahlawan nasional maupun tokoh sehingga sangat minim dan perlu diperbanyak dalam rangka internasionalisasi dan pengabadian kepada tokoh panutan bangsa Indoensia agar terus dikenang.

Fakta pendukung dari riset Litbang MABMI Deliserdang juga ditemukan nama bandara yang ada hampir di seluruh kota-kota besar di Pulau Sumatera menggunakan nama Sultan atau pun setidaknya nama tokoh kecuali bandara Polonia Medan di Sumut dan Minangkakabau di Padang, Sumatera Barat.

Apresiasi

Azizul memberikan apresiasi kepada Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang menabalkan nama tokoh hampir di semua bandara yang ada di Aceh seperti, bandara Tjut Nyak Dhien (Naga Rayan), Malikus Saleh (Lhokseumawe), Maimun Saleh (Sabang), Teuku Cut Ali (Tapaktuan) dan Syekh Hamzah Fansuri (Singkil).

Di daerah lainnya seperti, Sibolga (Sumut) bandaranya juga menggunakan nama tokoh yakni, Dr Ferdinand Lumban Tobing, di Batam (Kepualauan Riau) Hang Nadim, Bengkulu, Fatmawati Soekarno, Pangkal Pinang (Bangka Belitung) Depati Amir dan Tanjung Pandan Belitung (Bangka Belitung) HAS Hanandjoeddin.

Menurut Kandidat Doktor USU ini, merujuk hasil kajian riset Litbang MABMI Deliserdang, sudah sangat tepat bila bakal bandara baru di Kualanamu diberi nama Sultan Serdang. Penamaannya juga bukan nama Sultan Serdang yang pernah berkuasa langsung, dari justeru sejarah keberadaannya.

Melalui Kementerian Perhubungan tambah Azizul, sebenarnya bila pengajuan nama bakal bandara internasional di Kualanamu satu saja, pasti akan disetujui langsung. Namun dikarenakan banyaknya usulan nama menyebabkan prosesnya membutuhkan waktu lama dan sampai sekarang belum diketahui pasti. (ak)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *