TAMBANG EMAS MARTABE AKAN DITUTUP

Dua Ribu Pekerja Rawan Dirumahkan

MEDAN-Perusahaan tambang emas Martabe yang terletak di Batangtoru Kabupaten Tapanuli Selatan akan tutup untuk sementara. Hal ini dikarenakan produksi tidak bisa berjalan, menyusul berbagai masalah yang menghambat pemasangan pipa penyaluran air sisa tambang.
Hal tersebut diungkapkan Komisaris G-Resource Martabe, Anwar Nasution yang didampingi oleh Humas G-Resourcen
Martabe Katharina Suwardono di JW Marriot Hotel (14/5) kemarin.

Anwar Nasution menyatakan, operasional tambang PT Agincourt Resource saat ini sedang terganggu dengan berbagai peristiwa di daerah tambang. Seperti pembakaran pipa penyaluran air bekas proses tambang, yang disusul aksi demonstrasi warga setempat. “Sudah 2 kali kita dihalangi untuk pemasangan pipa ini, mulai dari pipa milik kita yang dibakar sama massa, kemudian saat akan melakukan pemasangan lagi, kita didemo. Tanpa pipa ini, operasional pipa akan sangat terganggu,” katanya.

Dijelaskannya, selama ini untuk produksi emas, air sisa ini akan masuk ke dalam wadah (penampungan). Di penampungan inilah air diproses sehingga aman sesuai kajian AMDAL dan Kepmen Lingkungan Hidup tentang baku mutu air. Nah, karena pipa ini belum terpasang, tampungan air tersebut sudah hampir penuh. “Kalau prediksi kita, sebenarnya dia mampu untuk menampung hingga 2 bulan lagi. Tetapi, saat ini kita butuh dana untuk produksi,” lanjutnya.

Seperti diketahui pada Juli kemarin, G-Resource Martabe telah berhasil memproduksi emas. Tetapi, untuk produksi selanjutnya, penampungan air sisa ini dibutuhkan, hanya saja ditakutkan tidak mampu menampung. “Produksi percobaan pada Juli kemarin sudah berhasil. Karena itu, akan dicoba untuk produksi yang sebenarnya. Karena target emas per tahun kita ‘kan sekitar 250 ribu ons,” tambah Anwar yang merupakan mantan pegawai BPK RI ini.
Pemasangan pipa ini harus secepat mungkin dilakukan, mengingat saat ini sudah memasuki musim penghujan, di mana tempat penampungan akan lebih cepat terisi. Sedangkan untuk pemasangan pipa ini dibutuhkan waktu maksimal selama 14 hari. “Kita harus cepat membangun pipa, untuk mencapai target produksi,” ungkapnya.

Walaupun tidak menyukai dengan keputusan perusahaan ini, tetapi mau tidak mau harus dilakukan. Karena bergerak dalam bidang bisnis, dimana keuntungan mencapai pokoknya. “Apalagi, tambang ini memperkerjakan 2 ribu pekerja, di mana 70 persennya adalah masyarakat setempat. Jadi, kalau operasional ditutup sementara, maka kita juga akan merumahkan mereka. Dan yang rugi siapa?” lanjutnya.
Pemda & Pemprov Sudah Dapat Saham

Saat ini, pada umumnya yang bekerja di tambang emas ini memiliki penghasilan sekitar Rp4 hingga Rp5 juta per bulan. Anwar mengakui, saat ini tidak mengetahui dengan pasti kendala yang dihadapi oleh perusahaan asal Australia ini dengan masyarakat setempat, mengingat semua hal pokok sudah diberikan. “Kalau meminta CSR, jangan sekarang, karena untung saja belum. Tapi, pasti akan kita berikan. Saham juga sudah kita berikan untuk Pemda setempat dan Pemprovsu,” tambahnya.

Mengakui sosialisasi antara perusahaan dan masyarakat setempat yang belum berjalan dengan baik, Anwar akan menempuh jalan terakhir sebelum memutuskan untuk menghentikan produksi emas sementara. “Kita akan berkonsultasi dulu dengan Kapolda Sumut, Pak Wisnu. Karena kita juga bingung, saat terjadi pembakaran pipa penyaluran, sepertinya Kapolres di sana tidak bergerak atau mencari tahu. Padahal, sebagai aparat keamanan, dan ini adalah salah satu bentuk investasi bukankah pekerjaannya menjaga keamanan kita?” lanjutnya.

Setelah itu, manajeman G-Resource juga akan berkunjung untuk daerah tambang dan berbincang langsung dengan masyarakat setempat. “Kita butuh kepastian, kenapa kita diganggu saat produksi bukan saat eksploitasi. Jangan begitu, tambang ini bukan hanya keuntungan perusahaan, tetapi juga masyarakat setempat. Terbukti, perekonomian masyarakat sudah meningkat. Lihat saja saat ini berbagai cabang bank sudah berdiri di daerah tersebut,” tambah Anwar.

Salah satu peningkatan ekonomi masyarakat setempat, dapat dilihat dengan sudah mulai banyak yang berdagang di daerah tersebut, karena kebutuhan pokok pabrik emas yang harus memberi makan lebih dari 2 ribu karyawannya. “Kalau kita tutup sementara, maka kita mereka juga harus tutup, yang rugi siapa lagi?” lanjutnya.

Terkait dengan pencemaran air sungai Batangtoru, dengan Anwar mengatakan bahwa G-Resource Martabe yang membuat air sungai tersebut tercemar. Ada berbagai faktor. “Silakan cek, apakah kita yang mencemari atau bukan, karena kita saja baru masuk, dan belum melakukan apa-apa,” tambahnya.
Sementara itu, menurut Humas G-Resource Martabe, Katarina Soediono mengatakan untuk saat ini tidak memperhitungkan kerugian yang akan dialami PT Agincourt Resource karena ini dalam masih dalam taraf pertimbangan, menunggu keputusan dari pemerintah provinsi Sumatera Utara dan pemerintah daerah. “Kalau hitung-hitungannya saya tidak tahu pasti. Yang pasti untuk invest di tambang ini sudah mencapai 1 miliar dolar,” ungkapnya. Dana tersebut belum termasuk dengan biaya eksploitasi, pembangunan pabrik, dan produksi kemarin.

Ditegaskannya, keputusan untuk menutup tambang emas ini adalah keputusan terakhir, hingga keluar kepastian hukum. “Penutupan juga akan berjalan secara perlahan. Awalnya bagian kasar, setelah itu yang bagian bawah. Dan kemungkinan keputusan ini akan mulai berjalan sekitar 1 minggu lagi,” ungkapnya. (ram)
Konflik Warga dengan Tambang Emas Martabe

12 Juni 2012
Ratusan warga di 6 desa di Kecamatan Muara Batang Toru membakar mobil Ford Double Cabin milik perusahaan dan pipa-pipa limbah milik PT Agincourt Resources.

4 September 2012
Ribuan warga dari 11 desa dari Kecamatan Muara Batang Toru berusaha membakar pipa-pipa dan menentang rencana pemasangan jaringan pipa pembuangan limbah yang mengarah ke Sungai Batang Toru.

5 September 2012

Ribuan warga terlibat aksi saling dorong dengan  pihak kemanan. Massa yang emosi melempari petugas dengan batu yang dibalas petugas dengan tembakan peringtan ke udara
Sedaprov Nurdin Lubis meminta BLH Sumut turut mengawasi limbah G-Resource dan meminta Bupati Tapanuli Selatan membantu menenangkan suasana.

6 September
Communications Manager PT Agincourt Resources,  Katarina Hardono, meminta Pemerintah Provinsi serta pemerintah kabupaten/kota di sekitar tambang turut andil menyelesaikan persoalan.

7 September
Mediasi antara manajemen perusahaan pertambangan dengan warga terus dilakukan.

14 September
Manajemen tambang menyatakan kemungkinan menutup tambang hingga konflik dengan warga terkait terkait limbah dan pengelolaanya diselesaikan.
Data olahan Sumut Pos
sumber: hariansumutpos

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *