KAMPANYE PUTARAN KEDUA DIWARNAI SALING SINDIR DAN PENGHADANGAN

[JAKARTA] Perburuan menjadi pemimpin Ibukota 2012-2017 mulai memanas. Pernyataan-pernyataan menyindir mulai dilancarkan para kandidat. Pada hari pertama kampanye putaran kedua pilkada DKI Jakarta, Wakil Calon Gubernur nomor urut satu, Nachrowi Ramli menyindir calon gubernur nomor urut tiga, Jokowi.

Nara, sapaan Nachrowi meminta Jokowi untuk menghentikan ‘aksinya’ berlagak seperti orang kecil. Sindiran ini disampaikan mantan Kepala Lembaga Sandi Negara RI tersebut saat menggelar kampanye di daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (14/9). Pernyataan Nara itu, menanggapi sikap Jokowi yang seringkali menyebut dirinya sebagai orang kecil atau semut.

“Itu hanya pencitraan seolah-olah didzolimi. Memangnya Ibu Mega dan Pak Prabowo bukan tokoh besar. Dan PDIP kan partai besar yang dipimpin ibu Mega, mantan Presiden,” kata Nara.

Lebih jauh dari itu, Nara juga menyinggung soal iklan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) yang menampilkan Jokowi-Ahok di televisi. Menurutnya beriklan di media televisi membutuhkan biaya yang sulit dijangkau masyarakat kelas bawah.
“Bikin iklan di luar kampanye saja mampu. Apa itu orang kecil? Bikin iklan di televisi itu kan mahal. Jadi Jokowi nggak usah berlagak miskin. Itu sudah nggak zaman,” ujar Nara.

Iklan APPSI sendiri saat ini telah dinyatakan melanggar aturan kampanye oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta. Saat ini Panwaslu sedang mengajukan kasus iklan tersebut ke kepolisian.

Tak hanya Nara yang melancarkan aksi sindir-menyindir, pasangannya, calon incumbent Fauzi Bowo juga melakukan hal yang tak jauh berbeda. Sindiran Foke, sapaan Fauzi Bowo, terutama dilontarkan saat diminta tanggapan mengenai tudingan meniru cara kampanye dan program pesaingnya. Foke dengan tegas menolak tudingan tersebut. Menurut mantan Sekretaris Daerah dan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu, jauh sebelum dikampanyekan oleh Jokowi, program jaminan kesehatan masyarakat telah lama dicanangkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bahkan program jaminan kesehatan itu juga telah diterapkan di berbagai kota besar dunia yang ada di Amerika Serikat dan Australia.

“Tapi kan saya tidak bilang, ‘Gila Obama nyontek gw’, nggak kan?” katanya.

Menurutnya, jaminan kesehatan warga tersebut dapat dikatakan efektif tergantung dari sistem yang digunakan. Untuk itu, dia menegaskan, program Jaminan Kesehatan Daerah yang baru saja dibagikannya kepada masyarakat Jakarta beberapa waktu lalu memang dibutuhkan warga Ibukota.

“Saya mau kasih komentar tentang jaminan layanan kesehatan itu ya. Jakarta sudah punya sejak lama tapi untuk menyempurnakan ya terus dilakukan,” kata Foke.

Sebelumnya, di hadapan warga Cipinang Besar Utara, Foke mengingatkan warga jika Pilkada DKI akan menentukan masa dengan Jakarta. Duntuk itu pihaknya berharap masyarakat memilih pasangan yang menurut pemilih terbaik. Meski demikian, Foke menyindir, Jakarta akan menjadi kota yang tak tentu arah jika dipimpin oleh orang yang tak mengenal seluk-beluk Ibukota.

“Tgl 20 (September) menunjukan warga Jakarta mau dibawa nyasar atau ngga. Kalau ikhlas mau dibawa nyasar ya silakan, jangan pilih bang kumis. Ya iya ada yang tanya Cipinang Besar Utara, ga tau. Ada yg tanya ulang tahun Jakarta, nanti jawabnya tanggal 1 Juni lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, pada hari yang sama, calon wakil gubernur nomor urut tiga, Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disapa Ahok, harus mengalami insiden kecil dalam kegiatan kampanyenya di  kompleks PTB Blok J, RT 09 RW 11, Klender, Duren Sawit Jakarta Timur. Ahok dihadang dan sempat ditolak bertemu para pendukungnya oleh seorang pria yang mengaku sebagai wakil RW setempat. Beruntung, insiden itu tak meluas dan cepat mereda.

Penghadangan ini terjadi saat Ahok tengah menyusuri jalan. Tiba-tiba, seorang pria dengan menggunakan motor Honda Scoopy berwarna putih dengan nomor polisi B3348TON menerobos rombongan mantan Bupati Belitunng Timur itu. Bahkan, beberapa pewarta televisi yang tengah mengambil gambar, hampir ditabrak pria paruh baya berkepala plontos tersebut.

“Ini ada apa ini. Sudah ada izinnya belum? Kalau nggak ada izin dari warga setempat, nggak boleh masuk,” kata pria yang mengaku bernma H. Abdul Rojak tersebut.

Penghadangan itu direspon Ahok memberikan penjelasan mengenai aturan berkampanye.

“Mohon maaf bapak, ini kan sudah kampanye Pilkada putaran kedua, dalam peraturan, jadi kegiatan saya ini sudah dijamin undang-undang,” ujar Basuki.

Diberi penjelasan tersebut, pria itu tak terima. Dia terus menentang penjelasan Ahok. Perdebatan di antara keduanya berjalan alot. Sementara, warga yang sebelumnya berjabat tangan dan berfoto tampak terkejut dengan insiden tersebut.

“Kita disini sudah bilang Kelurahan. Aspirasi bapak ini termasuk mewakili warga setempat juga atau tidak?” Tanya Basuki.
“Kalau cuma sampai Kelurahan, nggak cukup. Sama warga setempat juga, dong,” lanjutnya ngotot.

Perseteruan antara Abdul Rojak dan Basuki beserta rombongan pun mereda begitu wakil RW tersebut disarankan untuk melapor kepada pihak kepolisian jika tak menerima kedatangan Ahok. [F-5]
sumber: suarapembaruan

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *