JHONIZAR CIPTAKAN ALAT DETEKSI TSUNAMI BERBASIS RADIO FM

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Jhonizar (29), dosen Teknik Elektro Universitas Megou Pak Tulang Bawang, Lampung, menciptakan alat peringatan dini tsunami berbasis gelombang radio frequency modulation (FM). Alat peringatan dini tsunami yang diciptakannya ini diklaim lebih efektif dan efisien ketimbang sistem konvensional yang berbasis transmisi satelit.

Kunci dari sistem peringatan dini tsunami yang dikembangkannya setahun terakhir ini adalah pengiriman data dari sensor pemantau ketinggian air laut menggunakan gelombang radio FM, bukan satelit.

“Dengan sistem ini, selain biayanya bisa lebih murah karena tidak perlu satelit, pengiriman data juga bisa lebih cepat. Gelombang FM yang biasanya dipakai untuk mentransmisikan suara, saya gunakan untuk mengirimkan data kenaikan permukaan air laut,” ujar Jhonizar, Kamis (13/9/2012).

Dari simulasi, alat ini bisa mendeteksi kenaikan permukaan atau gelombang air tiba-tiba. Alat mikrokontroler dan FM transmitter lalu mengirimkan sinyal lewat gelombang FM ke alat penerima. Lalu, sinyal ini diolah kembali melalui perangkat lunak (software) komputer yang dibuatnya khusus.

Dari perangkat lunak itu terdeteksi angka kenaikan permukaan laut. “Jika kenaikan itu melebihi ambang batas, misalnya 70 persen, akan langsung membunyikan alarm peringatan (bahaya tsunami),” ujarnya.

Sistem peringatan dini tsunami ini, ungkapnya, bisa bekerja dalam radius hingga 100 kilometer. “Gelombang FM bisa mengirim data yang sangat bersih, bebas gangguan, dan cukup jauh, hingga 100 kilometer,” ujarnya.

Ia berharap, alat ini bisa dikembangkan lebih lanjut dan dijadikan rujukan untuk sistem peringatan dini tsunami di masa depan di Indonesia.

“Dengan biaya yang bisa lebih ditekan, jika ini dikembangkan, harapan saya seluruh daerah yang selama ini belum dilengkapi alat deteksi tsunami, bisa segera memilikinya,” tukasnya.

Atas temuan alat ini, alumnus Fakultas Matematika dan IPA ini mendapatkan penghargaan Juara III Lomba Cipta Inovasi Teknologi Terapan Provinsi Lampung 2012 untuk kategori peneliti.
sumber: kompas

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *