BULOG SERIUS BANGUN KEKUATAN BISNIS RITEL

Tahun ini secara ekspansif akan terus ditambah dengan target 205 unit gerai.

JAKARTA – Membangun jaringan bisnis ritel Bulogmart bagi Bulog merupakan jalan panjang menopang kesusksesan ekspansi BUMN ini di sektor on farm sekaligus mengefisienkan institusi ini menyentuh konsumennya dalam unit usaha distribusi produk pangan hasil panen dalam negeri maupun produk impor.

Dirut Bulog Sutarto Alimoeso menjelaskan ekspansi Bulogmart ini sebuah keharusan agar Bulog makin efisien di unit usaha distribusi dengan menguatkan diri juga menjadi pedagang wholesale.

“Kami sedang melakukan ekspansi penguasaan komoditas beras di sektor on farm dengan menjadi pengijon yang memberi kredit modal kerja bagi petani dan juga menjadi avalis agar petani bisa menyerap KKPE. Jadi, ke depan, mendapatkan pengadaan beras dalam negeri 3 juta ton, itu tidak lagi sulit,’’ kata dia kepada SH, Rabu (12/9).

Serapan KKPE di sektor tanaman padi selama ini sangat rendah, yakni hanya 2-4 persen dari yang disediakan pemerintah. Makanya, dengan menyediakan diri menjadi avalisnya para petani padi, petani sangat terbantu memperoleh kredit modal kerja. Selain itu, menjadi pengijon yang memberi kredit modal kerja bagi petani sekaligus mengikat perjanjian penyerahan hasil panen, juga sudah dilakukan Bulog dalam setahun terakhir.

Bulog juga sudah menggandeng asuransi untuk mengadakan produk asuransi gagal panen dan gagal bayar. Dengan model pendekatan yang holistik ke para petani ini, menyebabkan Bulog makin berkuasa di sektor hulu beras.

Ia menghitung asumsi jika Bulog bisa bekerja sama dengan petani padi atau kelompok taninya dengan luas 500.000 ha saja, dalam setahun Bulog akan menyerap sedikitnya 1,5 juta ton beras. Kalau luasannya diperluas lagi menjadi 1 juta ha, Bulog akan berhasil menyerap 3 juta ton.

“Jadi, untuk mendapatkan beras segitu nggak sulit. Dengan demikian, karena Bulog membangun kekuatan jaringan di on farm, persoalan baru kemudian muncul, nanti siapa yang akan mengangkut dan memasarkan? Makanya kita bikin unit usaha Bulogmart ini,’’ dia menjelaskan.

Menurut Sutarto, Bulogmart ini bukan waralaba, melainkan gerai (outlet) grosir memasarkan beras dan bahan pokok lainnya, kemudian sarana pertanian seperti pupuk, pestisida dan juga alsintan.

Khusus untuk kedelai, nanti gerai Bulogmartnya bekerja sama dengan Kopti, sedangkan gula nanti bekerja sama gerai Bulogmartnya dengan koperasi KUD. Semua gerai ini menjual dengan harga grosir. Nanti ke depannya juga ada unit usaha jasa pengangkutan komoditas sembako. Jadi, dari hulu, hilir Bulog kuasai.

“Kalau seperti ini, Bulog kuat sebagai stabilisator pangan. Sebelum pemerintah merevitalisasi kita, kita sudah merevitalisasi diri sendiri secara internal. Kelayakan usaha Bulogmart ini nantinya bisa terbangun outlet di 2.000 lokasi, sebagian bertempat di lokasi gudang, karena Bulog mempunyai 1.051 kompleks pergudangan di seluruh Indonesia, sebagian lagi di kantor UPGB dan kantor subdivre,’’ tuturnya.

Awalnya, pembukaan gerai ritel ini baru di tiga lokasi pada beberapa bulan lalu, kemudian tahun ini secara ekspansif akan terus ditambah dengan target 205 gerai. Ini nanti jadi distributor (distribution center/grosirnya) beras. “Halamannya luas, tempatnya bagus,” ujarnya.

Ia mengakui Bulog sangat terkungkung dengan PP3/2007, padahal besar peluang Bulog menjadi pemain internasional. Makanya penguasaan di sektor hulu on farm dan di rantai distribusi di dalam negeri harus kuat. Tapi, kalau dalam negerinya belum kuat, Bulog bisa kolaps. Jika tidak kuat di dalam negeri, pemerintah harus serba tanggung.

“Kami tidak berpikir untuk berubah menjadi apa. Tapi mulai berpikir sebagai state owne enterprises,” katanya.

Memikirkan Bulog mau menjadi apa, Sutarto mengandaikan kalau bobotnya itu lebih besar melaksanakan tugas PSO, Bulog tetap perum. Tapi, kalau bobotnya hanya melaksanakan tugas pemerintah, Bulog hanya LPND.

Tapi, kalau seperti digambarkan sebagai international player, Bulog harus menjadi perseroan terbatas (PT). Ini karena Bulog mampu berbelanja kedelai langsung ke produsennya yakni Brasil yang selama ini barangnya diimpor oleh importir Indonesia melalui tangan ketiga dari pedagang Amerika Serikat.

“Mustinya sih Bulog bisa jadi PT. BRI saja bisa. Ada penasihat Bulog bilang kalau sudah punya 500 outlet Bulogmart ya, Bulog bisa IPO. Kami menunggu pemerintah memilih yang mana.

Insentif bagi Bulog tidak perlu macam-macam. Hanya mendapat pembebasan bea masuk impor namun importir swasta tidak mendapatkan pembebasan bea masuk, maka Bulog akan kompetitif,’’ tuturnya.
sumber : shnews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *