KESENIAN TRADISIONAL KARO DIPERKUAT HADAPI GEMPURAN BUDAYA ASING

Berastagi-andalas Sebuah etnik (suku) tidak bisa terlepas dari unsur keseniannya. Kesatuan alam, budaya dan seni merupakan perwujudan menyeluruh dari sebuah etnik. Suku Karo sebagai salah satu etnik yang dimiliki nusantara tentu memiliki keunikan kesenian tersendiri.

PELATIHAN – Tampak pelatihan perangkat kesenian tradisional Tanah Karo di open stage Taman Mejuah-juah Berastagi. andalas/robert

 

Keunikan kesenian Karo inilah yang menjadi kebanggaan suku Karo dalam menjalankan tutur budayanya. Tapi, potensi dan pengembangan kesenian Karo tidak bisa terlepaskan dari bagaimana masyarakat Karo mengapresiasikan kesenian daerahnya itu sendiri.

Dan bagaimanakah kesenian Karo di antara dinamika kesenian nasional ? Dan bagaimana pula kesenian lokal bisa survive menghadapi gempuran budaya asing yang semakin tidak terbendung, terutama  dengan alat musik keyboard tunggal yang sudah sangat dikenal bahkan seakan sudah menjadi kebutuhan pada sendi kehidupan seni budaya masyarakat Karo?.

Dalam upaya memberikan jawaban serta solusi ketika kita harus dihadapkan pada kenyataan kesenian daerah diantara dilematis kesenian nasional, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo  melalui Seksi Budaya melaksanakan “Pelatihan Perangkat Kesenian Tradisional Karo” Senin hingga Jumat, 10-14 September di Taman Mejuah-juah Berastagi.

Menurut Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Karo, Dinasti Sitepu, melalui Kasi Budaya, Asmona Perangin-angin SH, pelatihan ini dimaksudkan untuk mengenalkan sekaligus mengajarkan bagaimana memainkan alat musik tradisional Karo yang berkarakter dan terintegrasi kepada generasi muda Karo dan para pesertanya berasal dari pelajar setingkat SMA.

Kegiatan ini kita bagi 3 angkatan, dengan jumlah peserta 60 orang setiap angkatan,” terangnya. Asmona juga menjelaskan kalau angkatan pertama ini diikuti oleh para pelajar  dari  SMA Yayasan Perguruan Masehi Berastagi.

Sementara pada angkatan kedua akan diikuti pelajar dari SMA Bersama Berastagi  dan angkatan ketiga penggabungan antara SMA Masehi dan SMA Bersama ditambah  pelajar dari SMIK 2 masing masing 20 orang siswa.

Kepada wartawan, Dekeng S Sinulaki selaku kordinator  mentor mengatakan, metode yang mereka gunakan dalam pelatihan dimaksud mereka  awali dengan sejarah musik Karo yang dilanjutkan pengenalan perangkat musik tradisionil Karo dan diakhiri dengan pengajaran cara membuat serta memainkan alat musik itu sendiri.

“Tidak semua peralatan diajarkan cara pembuatannya, hanya keteng – keteng saja yang kita praktekkan cara pembuatannya,” ujar pria yang mulai mencintai alat musik tradisionil Karo sejak berusia 16 tahun.

Disebutkan Dekeng, keteng-keteng merupakan alat musik Karo yang sangat simple dan terbuat dari bahan seruas bambu sehingga para siswa yang mengikuti pelatihan dapat atau lebih gampang mencari bahan bakunya dan sekaligus membuatnya.(RTA)
sumber : http://harianandalas.com

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *