JANJI BONARAN MUNDUR DITAGIH

Pandan-andalas Ribuan warga Tapanuli Tengah (Tapteng) yang menamakan dirinya Gerakan Rakyat Menggugat (Geram), Senin (10/9) sejak pukul 11.30 hingga pukul 18.30 WIB sore, turun ke jalan mendesak Bupati Tapteng Raja Bonaran Situmeang turun dari jabatannya karena tidak menepati janji politiknya saat kampanye dan kembali ke ibu kota negara yakni Jakarta.

Desakan mundur itu disampaikan massa Geram melalui oratornya Pastor Rantinus Manalu, Dennis Malango, dan Ustaz Sodiqin Lubis, karena massa menganggap Bonaran telah gagal membawa perubahan positif di daerah yang berjuluk atau bermotto Sahata Saolooan tersebut selama satu tahun memimipin Tapteng.

“Kita datang ke mari menuntut janji politik Bonaran pada saat kampenye pemilihan kepala daerah tahun lalu. Dalam janji politiknya dia (Bonaran) berjanji mundur dan kembali ke Jakarta bila tidak mampu membawa perubahan Tapteng ke arah yang lebih baik dalam satu tahun kepemimpinannya,” kata Pastor Rantinus Manalu dalam orasinya di tengah-tengah massa di depan gedung DPRD dan Kantor Bupati Tapteng pada aksi Senin (10/9) itu.

Pastor Rantinus Manalu adalah sosok yang cukup dikenal luas di tengah–tengah masyarakat Tapteng. Ia dianggap seorang sosok yang cukup kontrovesial, namun dikenal komit dan getol dalam janjinya memperjuangkan hak–hak masyarakat yang tertindas.

Sosok kontroversial Rantinus terletak dari pribadinya yang berpredikat seorang pastor di Keuskupan Sibolga tersebut. Namun, predikat itu bukan menghalanginya turun bergabung membantu masyarakat tertindas.

Sosok kontroversial lainnya, pada masa Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tapteng periode 2011–2016 lalu. Pastor Rantinus tak lain merupakan Ketua Umum (Ketum) Tim Pemenangan Pasangan Raja Bonaran Situmeang–Syukran Jamilan Tanjung atau yang akrab disapa pasangan BOSUR kala itu.

Demikian pada masa bupati sebelumnya yang dijabat Tuani Lumbantobing. Tuani dan Pastor Rantinus merupakan pasangan teman yang cukup dekat, bahkan turut membantu memenangkan Tuani Lumbantobing menjadi bupati.

“Orang bilang Pastor Rantinus selaku Ketum Tim Pemenangan pasangan BOSUR sudah tidak komit, adalah salah. Dari dulu sampai sekarang ini perjuangan saya adalah kembalikan tanah rakyat yang diserobot dan bawa perubahan lebih baik daerah ini. Biar semua tahu juga, saya tidak pernah meminta apa–apa kepada pasangan BOSUR sejak terpilih dan dilantik, malah uang saya yang keluar pada masa kampanye dulu. Jadi ini lah bukti kekomitan saya,” tuturnya.

Terkait permintaan sekaligus desakan mundur terhadap Bonaran Situmeang selaku Bupati Tapteng karena dianggap telah gagal membawa perubahan Tapteng ke arah yang lebih baik, Pastor Rantinus mengaku memiliki pegangan untuk menyatakan dan menyampaikan hal itu.

“Atau siapa dari kita semua yang ada di sini yang bisa menyangkal itu, silakan naik ke podium ini untuk menyampaikannya. Apa ada, silakan naik,” tantang Pastor Rantinus.

Sebelumnya Dennis Simalango selaku Koordinator GERAM kepada sejumlah wartawan menegaskan, aksi yang mereka lakukan ini akan terus berlanjut bahkan mereka berencana akan menginap sampai cita–cita mereka terealisasi.  “Kita akan terus melakukan aksi sampai batas waktu yang belum bisa dipastikan,” katanya.

Sementara itu Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Tapteng Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Dicky Patrianegara menerangkan, aksi yang dilakukan para pendemo sejauh ini masih berjalan baik dan tidak anarkis. Bila massa bertindak anarkis di luar yang diharapkan, pihaknya tentunya akan mengambil tindakan sesuai hukum yang berlaku.

Dalam kegiatan pengamanan, kita maksimalkan tiga pengamanan yakni pengamanan para pendemo, objek, dan anggota sendiri,” tuturnya.

Kepala Bagian Operasion (Kabag Ops) Komisaris Polisi (Kompol) Leo Siagian menambahkan, jumlah personel yang diterjunkan berkisar 450 orang, di antaranya 1 SSK (Satuan Setingkat Kompi) Brigadir Bermobil (Brimob), 1 SSK TNI dari Kodim 0211/TT, 90 orang dari Satpol PP.

“Kalau diperhitungkan dari surat permohonan aksi ke Polres Tapteng, jumlah pengamanan ini sangat tidak sebanding dengan massa atau seperseribu tidak ada. Soalnya, jumlah massa yang turun disebut sekitar 10.000–15.000 orang,” tandasnya.

Pantauan andalas, massa dari 20 kecamatan yang ada di Tapteng merangsek masuk ke ibu kota kabupaten itu datang menaiki puluhan truk jenis colt diesel dan puluhan kendaraan roda dua.

Dalam aksi itu, para massa memusatkan unjuk rasa di dua titik utama yakni kantor bupati dan gedung DPRD Tapteng di bawah pengawalan kepolisian dibantu TNI dan Satuan Polisi Pamongpraja (Satpol PP) Pemkab Tapteng.

Situasi di lokasi aksi sempat sedikit panas antara massa dengan Pemkab Tapteng terutama pihak Satpol PP, diakibatkan keberadaan baliho di sisi pintu masuk Kantor Bupati Tapteng. Isi baliho yang dimuat dari berita itu dianggap massa keberadaannya memprovokasi.

Sementara itu, sampai berita ini dikirimkan ke meja redaksi, massa Geram menginap di gedung DPRD Tapteng, setelah sebelumnya Pastor Rantinus Manalu dan Ustaz Sodiqin Lubis meminta izin secara resmi ke Ketua DPRD Sintong Gultom disaksikan Wakil Ketua Sondang B Hutagalung, Sekwan Singwani Siregar serta tiga orang anggota dewan lainya.

“Gedung ini adalah milik rakyat, silakan menginap di gedung ini tapi tolong tidak ada yang merusak dan yang anarkis, mari kita sama-sama menjaga ketertiban demi kenyamanan kita bersama,“ kata Sintong Gultom saat menerima 20 orang utusan Geram.

Dari hasil pertemuan utusan Geram dengan Ketua DPRD Tapteng Sintong Gultom bersama lima anggota dewan, berjanji akan meneruskan tuntutan Geram ke Gubsu Gatot Pujonugroho dan Mendagri Gamawan Fauzi.(MP/RES)
sumber : http://harianandalas.com

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *