JAM BERTAMU JEMAAH HAJI DITIADAKAN

Medan-andalas Kementerian Agama Sumatera Utara meniadakan jam bertamu bagi calon jemaah haji yang telah memasuki Asrama Haji Medan untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci.

“Seperti tahun lalu, jam bertamu tetap ditiadakan,” kata Kakanwil Kementerian Agama (Kemenag) Sumut Abdul Rahim dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi E DPRD Sumut di Medan, Senin (10/9).

Selama ini, kata Abdul Rahim, keluarga jemaah haji di Sumut memiliki tradisi bertamu dan makan bersama pada satu hari sebelum pemberangkatan ke Tanah Suci.

Di satu sisi, tradisi tersebut cukup baik untuk memeriahkan ibadah haji dan semakin memperkuat semangat calon jemaah untuk menjalankan ibadah yang menjadi salah satu rukun Islam itu.

“Itulah ciri khas ibadah haji di Sumut,” kata Kepala Kantor Kemenag Kota Medan tersebut.

Namun, kata dia, dari beberapa pengalaman dan sejumlah pertimbangan, pihaknya meniadakan jam bertamu tersebut karena dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Ia mencontohkan adanya sejumlah calon jemaah haji yang mengalami sakit perut setelah menikmati makanan yang dibawa dari kampung halamannya untuk dikonsumsi di Asrama Haji Medan.

“Mungkin, karena dibawa dari kampung dan menempuh perjalanan yang cukup lama, makanan itu basi. Akhirnya, jemaah kita mencret-mencret,” katanya.

Selain itu, calon jemaah haji tersebut banyak yang telah menjalani tradisi di kampungnya masing-masing, baik dengan upacara selamatan mau pun kegiatan lainnya.

“Jadi, setelah masuk Asrama Haji, kami ingin mereka bisa tenang dan fokus dengan ibadahnya,” kata Abdul Rahim.

Meski jam bertamu telah ditiadakan, pihaknya tidak membantah jika sebagian keluarga calon jemaah haji masih banyak yang datang untuk bertemu sebelum pemberangkatan ke Tanah Suci.

Disebabkan jam bertamu telah ditiadakan sehingga tidak dapat memasuki Asrama Haji, sebagian pihak keluarga berupaya untuk berjumpa dan berdialog dengan calon jemaah haji melalui pagar tempat menginap calon jemaah sebelum diterbangkan ke Arab Saudi itu. “Kalau begitu, mana mungkin dilarang,” katanya.

Kelompok terbang (kloter) pertama calon jamaah haji asal Sumatera Utara akan diberangkatkan pada 21 September dan akan diterbangkan langsung ke Madinah.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi E DPRD Sumut di Medan, Senin (10/9), Kakanwil Kementerian Agama Sumut Abdul Rahim mengatakan, pemberangkatan ke Madinah itu akan dilangsungkan hingga kloter 13. Sedangkan kloter 14 hingga 19 yang masuk gelombang kedua asal Sumut akan diberangkatkan langsung ke Makkah.

Direncanakan, kloter pertama asal Sumut tersebut akan tiba kembali ke Tanah Air pada 31 Oktober dan kloter terakhir pada 20 November 2012. “Rencananya, pelepasan kloter pertama dan terakhir akan dihadiri Gubernur dan muspida Sumut,” katanya.

Usia 87 Tahun

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenang Anggito Abimanyu menegaskan sampai dengan hari terakhir masa pelunasan BPIH Tahap II, kuota haji Indonesia tahun 1433 H/2012 M belum terisi penuh.

Untuk itu, Kementerian Agama membuka masa pelunasan BPIH Tahap III dari tanggal 12 – 14 September 2012 bagi calon jemaah haji yang berusia 87 tahun ke atas berdasarkan database SISKOHAT per tanggal 31 Agustus 2012 dan satu orang pendampingnya.

Menurut Anggito, teknis pengisian kuota untuk pendamping, dilakukan di Kanwil dengan User ID khusus dan petugas khusus yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi.

“Jemaah haji yang telah dikonfirmasi ke dalam database SISKOHAT, akan diberi surat pengantar oleh Kanwil Kementerian Agama Provinsi ke Bank Penerima Setoran (BPS) BPIH tempat setor semula untuk melakukan pelunasan BPIH,” terang Anggito.

Untuk jamaah haji yang berdomisili jauh dari Kanwil, surat pengantar dapat diberikan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota setelah mendapat pemberitahuan dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi.

Menanggapi hal itu, Kasubag Hukmas Kementerian Agama Wilayah Provinsi Sumut Chairul Syam berdasarkan keterangan dari Kementerian Agama RI yang menyebutkan batas usia paling muda untuk calon jemaah haji berusia tua yakni 87 tahun.

“Kuota haji untuk Sumut 8.234 namun hingga akhir pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) gelombang kedua 7 September lalu yang melunasi sebanyak 8.080 dan bersisa 154,” ujar Chairul Syam, Senin (10/9).

Sisa itu, sebutnya, dikembalikan ke pusat dan untuk Sumut diberi kuota sebanyak 46 orang di mana 23 orang yang berusia 87 tahun dan 23 orang merupakan pendamping yang diambil dari calon jemaah tahun 2013.

Dia menambahkan jemaah tua yang diambil bukan dari porsi tahun 2012 karena mereka sudah diberi waktu melunasi namun tidak melunasi BPIH-nya.

Anggota DPD RI asal Sumut Prof Damayanti yang dihubungi menyampaikan mengenai kuota merupakan peraturan dari OKI. Namun dengan panjangnya waiting list atau daftar tunggu, pemerintah mengajukan permintaan kuota tambahan sebanyak 30.000.

“Jadi alternatifnya diupayakan meminta terus kuota tambahan, karena pendaftar haji yang membayar uang awal sebesar Rp25 juta, terutama yang harus menunggu hingga 10 tahun banyak yang mengeluh. Maunya daftar saja dan tidak memakai uang awal, “ ujar Damayanti.

Untuk itu, sambungnya, mereka sepakat agar dilakukannya regulasi pengawasan yang lebih ketat ke depannya terhadap pengelolaan dana haji tersebut. UU Haji harus segera diubah atau direvisi terutama menyangkut pengawasan haji dan lainnya.

“Regulasi yang diharapkan tidak merugikan rakyat tentang pendaftaran. Kita ingin harus ada aturan atau undang-undang yang mengatur dana pendaftaran haji mau diapakan, pengawasannya seperti apa. Bila tidak memakai uang awal, kapan mau berangkat. Yang sudah haji jangan lagi ikut daftar haji untuk mengatasi daftar tunggu yang panjang,” tegas Damayanti.(Ant/YN)
sumber : http://harianandalas.com

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *