TANAMAN DI LAMPUNG SELATAN MATI AKIBAT LIMBAH

KALIANDA, KOMPAS.com – Sejumlah tanaman pertanian dan perkebunan yang dibudidayakan petani di Kabupaten Lampung Selatan, banyak mati diduga akibat terkena limbah industri perusahaan gula di daerah itu.

“Kami kesulitan air sekarang untuk menyiram cabai, terpaksa pakai air sungai yang menjadi pembuangan limbah. Hasilnya, tanaman malah mati semua,” kata Hadiyanto, petani di Desa Kertosari, Kecamatan Tanjungsari, Lampung Selatan, Jumat (7/9/2012) ini.

Ia mengatakan, pada musim kemarau ini kesulitan mendapatkan air untuk menyiram dua hektar tanaman, sehingga terpaksa menggunakan air sungai yang diduga sudah tercemar limbah itu.

Petani setempat lainnya, Purwono, mengatakan, tanaman karet milik keluarganya juga mulai banyak yang mati, diduga karena terkena aliran air limbah itu.

Dia menjelaskan, menurut pihak perusahaan, air limbah itu tidak berpengaruh terhadap tanaman pertanian setempat, sehingga membuangnya ke sungai. Pada kenyataannya, tanaman banyak yang mati.

Sejumlah warga yang menjadi korban pencemaran menolak bantuan sumur bor dari perusahaan, yang telah membuang limbah sisa hasil proses rafinasi gula putih itu.

Waluyo, warga setempat membenarkan, memang sumur warga sudah tercemar. Namun yang lebih penting adalah menghentikan pembuangan limbah ke sungai, agar tetap dapat dimanfaatkan untuk mengairi tanaman mereka.

“Percuma kami bisa minum dan mandi pakai air bersih, tapi tanaman kami tidak mendapatkan air padahal sektor pertanian menjadi andalan warga di sini,” kata Waluyo.

Menurut dia, sudah ratusan hektar sayur-sayuran dan hortikultura lain telah mati, karena memanfaatkan air sungai untuk menyiram saat kemarau ini.

Dia berpendapat, bantuan sumur bor itu tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh pembuangan limbah itu.

Saat ini, lanjut Waluyo, dampak pencemaran terus meluas hingga desa-desa, karena pembuangan limbah ke sungai terus dilakukan meskipun warga sangat dirugikan.

Warga setempat lain, Hermanto, mengatakan,  PT Sugar Labinta sampai saat ini masih membuang limbah ke sungai, bahkan volumenya bertambah banyak tanpa mempedulikan kepentingan petani setempat.

Sebelumnya, menanggapi masalah itu, Manajer Administrasi PT Sugar Labinta, Denny Prasetio, mengatakan, pihaknya saat ini tengah berupaya keras menangani limbah tersebut agar tidak mengaliri sungai dan masuk ke sumur-sumur warga.

“Kami masih menindaklanjuti untuk menghentikan limbah-limbah yang mengalir ke sungai tersebut,” katanya.

Ia menerangkan, perusahaan tidak secara langsung membuang limbah-limbah itu, dan pihaknya akan segera mengembalikan pada kondisi semula.

Bupati Lampung Selatan, Rycko Menoza SZP, sebelumnya juga mengatakan bahwa perusahaan itu dapat dinyatakan bersalah bila ternyata memang terbukti limbahnya mencemari lingkungan sekitarnya, termasuk sungai dan sumur-sumur warga.
Pemkab setempat, kata  bupati, akan menerjunkan tim untuk melihat di lapangan karena ini menyangkut kepentingan masyarakat daerah tersebut.
“Kami akan segera menyikapi dan menerjunkan tim ke lapangan, agar lebih jelas duduk persoalan pencemaran limbah itu,” ujar Rycko pula.
sumber : http://regional.kompas.com

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *