REALISASI PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI DI SUMUT RENDAH

Musim Tanam Bergeser

MedanBisnis – Medan. Penyaluran pupuk bersubsidi baik urea maupun non urea untuk wilayah Sumatera Utara (Sumut) hingga 31 Agustus masih sangat rendah.
Untuk urea misalnya, realisasi penjualan periode Agustus 2012, hanya
sebanyak 10.783,65 ton atau 67% dari yang ditetapkan berdasarkan SK
Mentan/Gubsu sebanyak 10.783,65 ton. Sementara periode serupa tahun lalu
realisasi penjualannya sebanyak 14.172,55 ton.

Hal serupa juga terjadi untuk pupuk subsidi yang diproduksi Petrokimia Gresik. Rendahnya penyerapan ini disebabkan beberapa faktor, di antaranya cuaca esktrem yang terjadi akhir-akhir ini sehingga terjadi pergeseran musim tanam.

“Selain itu, permasalahan yang muncul di lapangan adalah adanya perbaikan irigasi di beberapa daerah sehingga terjadi perubahan jenis komoditas atau terjadi pergeseran musim tanam. Inilah alasan rendahnya penyerapan pupuk di tingkat petani saat ini,” kata Kepala Pemasaran Wilayah (KPW) PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) Pendi Effendi Rachmat kepada MedanBisnis, Jumat (7/9) di kantornya, Jalan Gajah Mada, Medan.

Dikatakannya, realisasi penyerapan pupuk urea yang paling tinggi untuk periode Agustus lalu adalah Kabupaten Karo 1.644,50 ton atau sekitar 90% dari SK Gubsu sebanyak 1.823 ton. Disusul Kabupaten Simalungun 1.475,60 ton atau 86% dari SK Gubsu sebanyak 1.713 ton, Langkat 1.118,35 ton atau 77% dari kuota SK Gubsu sebanyak 1.453 ton dan Kabupaten Dairi sebanyak 1.106 ton atau 105% dari kuota SK Gubsu yang ditetapkan sebanyak 1.054 ton.

Sedangkan realisasi penyerapan pupuk yang rendah ada di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sebanyak 333,70 ton atau 31% dari kuota SK Gubsu sebanyak 1.091 ton, kemudian Nias Utara 26 ton atau 27% dari SK Gubsu 98 ton, Batubara 94 ton atau 18% dari kuota 530 ton, Samosir 50 ton atau 15% dari kuota 324 ton dan Kota Binjai sebanyak 23,85 ton atau 40% dari kuota SK Gubsu sebesar 59 ton.

Begitupun,  kata Pendi, dari hasil rapat bersama Dinas Pertanian Propinsi dan kabupaten/kota pada Agustus lalu, akan dilakukan realokasi dari penyerapan pupuk paling rendah ke penyerapan pupuk paling tinggi. “Tetapi, untuk realokasi tersebut kita masih menunggu keputusan dari pemerintah pusat,” kata dia.

Pihaknya juga berharap penyerapan pupuk untuk bulan September hingga Desember nanti bisa terealisasi sebagaimana yang telah dialokasikan berdasarkan SK Mentan/Sk Gubsu. Mengingat saat ini, sudah memasuki musim tanam II dan disertai dengan masuknya musim hujan.

“Untuk stok urea subsidi saat ini ada berkisar 20.698,85 ton yang berada di sembilan gudang penyimpan PT PIM,” sebut Pendi.

Hal yang sama juga dikatakan Supervisor PT Petrokimia Gresik Wilayah Sumut, Ki Hari Purnomo. Menurutnya, cuaca ekstrem dan turunnya harga komoditas membuat daya serap pupuk petani menjadi terganggu dan berakibat pada belum 100% kuota pupuk untuk daerah yang terpenuhi.

Kecuali  untuk ZA, kata Ki Hari, penyalurannya sudah mencapai 100% lebih atau mencapai 35.089 ton, sementara jenis pupuk lainnya seperti KCl dan TSP masih di kisaran 85%.

“Cuaca ekstrem yang antara lain menyebabkan waktu tanam bergeser dan menimbulkan serangan penyakit. Ini membuat petani tidak bisa memupuk, sementara harga jual komoditas yang turun membuat petani enggan melakukan pemupukan dengan alasan takut semakin merugi,” jelasnya.

Meski belum 100%, kata dia, penyaluran pupuk bersubsidi Petrokimia masih cukup bagus. Untuk SP 36 misalnya sudah 90% atau 29.797 ton, phonska 72.697 ton atau 85% dan petroganik 13.513 ton. “Mudah-mudahan di masa tanam kedua ini, penyaluran pupuk bersubsidi bisa ditingkatkan,” katanya.

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, manajemen terus memperkuat stok baik di gudang perusahaan, distributor dan kios pengecer. Hingga pekan ini, stok pupuk sangat memadai, dimana masing-masing ZA sebanyak 14.365 ton, SP 36 sejumlah 24.404 ton, phonska 72.429 ton dan petroganik 8.826 ton.

Kepala Dinas Pertanian Sumut, M Room S, mengakui, cuaca ekstrem memang membuat gangguan waktu tanam, bahkan panen. “Tidak heran kalau juga penyaluran pupuk mengalami hambatan karena daya serap berkurang,” katanya.

Namun, kata dia, pihaknya sudah meminta produsen pupuk seperti Petrokima dan PT PIM menyiapkan stok hingga ke kios pengecer dan memperlancar distribusi khususnya di musim tanam kedua yang sudah mulai masuk sejak awal September lalu.(junita sianturi/elvidaris simamora)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

 

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *