GUNUNG ANAK KRAKATAU MUNTAHKAN DEBU VULKANIK HINGGA KE BANDARLAMPUNG?

BANDARLAMPUNG–MICOM: Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono menyatakan tidak pernah menyangkal debu yang menghujani wilayah Bandarlampung, Provinsi Lampung, bukan berasal dari Gunung Anak Krakatau.

“Saya hanya menyatakan, jika benar debu itu sampai ke Bandarlampung, saya tidak dapat menjelaskan, karena itu di luar hasil riset tim di lapangan,” kata Surono saat dikonfirmasi di Bandarlampung, Jumat (7/9).

Ia menjelaskan, secara logika ilmiah Gunung Anak Krakatau yang berketinggian 200 meter, tidak mungkin melempar debu hingga jarak sekitar 150 kilometer.

“Laporan dari anggota tim pos pemantauan di sana, debu aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak ada di Kalianda yang hanya berjarak sekitar 40 kilometer dari gunung tersebut,” ujarnya.

Bahkan foto satelit tidak menggambarkan lemparan abu vulkanik sampai ke arah Bandarlampung. “Saya sendiri belum mengetahui, dari mana asalnya debu yang menyebar di wilayah Bandarlampung sejak Senin kemarin,” katanya lagi.

Apalagi, berdasarkan laporan deteksi seismograf, Gunung Anak Krakatau berhenti mengeluarkan aktivitas vulkanik sejak 3 September, sementara debu hingga kini masih turun di Bandarlampung.

“Saya minta tolong kirimkan sampel debu, agar tim kami meneliti lebih lanjut debu yang menyebar di Bandarlampung,” kata dia.

Surono menjelaskan, jika debu tersebut benar berasal dari gunung berapi, maka kandungan debu itu akan banyak mengandung logam silika (Si).

“Jika debu tersebut digosok ke kaca, maka kaca akan tergores, akibat tingginya kandungan logam silika pada debu yang dihasilkan dari aktivitas vulkanik gunung berapi,” ujarnya.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung telah mengeluarkan hasil uji lab kandungan debu yang menyebar di wilayah Bandarlampung dan sekitarnya.

Dinas terkait mengeluarkan dua sampel debu dengan rincian kandungan kimia seperti seperti alumunium (Al) 0,544 mg/0,461 kg, besi (Fe) 7,069 mg/12,15 kg, cuprum 0,02 mg/0,003 kg, kalsium (Ca) 16,61 mg/0,275 kg, mangan (Mn) 0,617 mg/3,67 kg dan silika (Si) 0,3 mg/nol kg.

Diduga debu tipis yang sempat menghujani di wilayah Bandarlampung itu merupakan debu vulkanik karena sifatnya anorganik. Jika debu tersebut berasal dari kebakaran hutan, debu akan larut di dalam air. Namun, hasilnya justru sebaliknya. Debu tersebut tidak larut dalam air.

“Selain kami, dari Kementerian Kesehatan juga melakukan penelitian di tempat yang berbeda, namun masih di sekitar wilayah Bandarlampung dan hasilnya uji labnya pun sama seperti hasil penelitian kami,” kata petugas kesehatan.

Dia mengatakan, patut menjadi dasar bahan pertimbangan dinas tersebut bahwa debu vulkanik secara teori dapat terbang terbawa arah angin dengan jarak antara 100 hingga 1.000 kilometer. (Ant/OL-9)
sumber: http://www.mediaindonesia.com

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *