JUMONGKAS HUTAGAOL: PILIH PELAYAN, BUKAN PENGUASA HKBP

Jelang Sinode Godang HKBP di Tarutung

Medan, (Analisa). Pelaksanaan Sinode Godang HKBP hendaknya berjalan dengan nuansa kerohanian. “Diharapkan kegiatan tertinggi di HKBP tersebut, terutama pada pemilihan para pucuk pimpinan, berjalan tanpa intrik duniawi, dan lahir pemimpin berdasarkan “suara Tuhan”, kata Jumongkas Hutagaol, kepada wartawan, Kamis (6/9), terkait akan dilaksanakannya Sinode Godang di Sipoholon, Tarutung.
Jumongkas mengingatkan peserta sinode, bahwa HKBP bukan partai politik. Karena jika partai, maka tentu saja sudah jelas siapa ephorus terpilih berdasaarkan dukungan yang muncul pada sinode distrik yang lalu.

“Tapi karena HKBP bukan partai politik, maka calon yang mendapat dukungan terbanyak pada sinode distrik yang lalu itu pun, dengan legowo sudah bersedia untuk terus mengikuti mekanisme sinode godang,” katanya.

Untuk itu diharapkan agar seluruh peserta, mulai dari panitia, calon pimpinan, hingga utusan, supaya turut juga mengikuti tata cara sinode, tanpa ada intrik-intrik tertentu. Sehingga hasilnya sesuai harapan dan menggambarkan keinginan yang sebenarnya.

Dia juga mengingatkan, salah satu yang menurutnya harus jadi perhatian adalah, proses dan situasi pada saat pemilihan ephorus. “Meski tadi saya berharap agar kita melakukan secara nuansa kerohanian, tapi tetap saja butuh pengawasan. Terutama pasca pemilihan, di mana melihat situasi, bisa saja tidak langsung dilakukan penghitungan suara,” katanya.

Dipaparkan, kemungkinan situasi yang terjadi pada hari pemilihan ephorus, yang biasanya dimulai dengan kebaktian pagi. Lalu pembahasan tata tertib pemilihan, kemudian istrirahat, dilanjutkan dengan pemilihan.

Diperhitungkan, proses ini akan selesai sampai menjelang makan siang, di mana para peserta biasanya sudah mulai jenuh karena lelah dan lapar. Di sini biasanya panitia akan mengajukan pertanyaan, apakah langsung dilanjutkan dengan penghitungan suara atau setelah istirahat makan siang.

Cermati

Menurut Jumongkas, pada saat seperti inilah para peserta sinode perlu mencermati situasi, agar kotak suara tetap steril.

Kalau tidak memungkinkan penghitungan suara langsung dilaksanakan setelah proses pemilihan, artinya dilanjutkan setelah istirahat dan makan siang, maka perlu disepakati, bagaimana keberadaan kotak suara. Siapa yang menjaga, dan dimana dijaga. Apakah perlu semacam perwakilan dari para calon ikut menjaganya, ini harus disepakati.

“Semua masalah-masalah yang ada, termasuk soal pengamanan kotak suara, yang lebih penting sebenarnya adalah niat dari hati nurani masing-masing, apakah sinode ini bertujuan untuk pemilihan seorang penguasa atau seorang pelayan HKBP,” kata Jumongkas.

Menurutnya, kalau yang ingin dipilih memang seorang penguasa, maka tak mengherankan, jika ada intrik, dan wajar pula seluruh peserta sinode ikut “terhanyut” dalam intrik tersebut. “Tapi kalau memang ingin memilih seorang pelayan, maka mari kita melaksanakan Sinode Godang HKBP ini dengan nuansa kerohanian, jauh dari keinginan untuk menguasai”.

Dengan demikian, siapa pun yang terpilih menjadi ephorus, akan mampu melayani dan membawa HKBP menjawab tantangan yang makin berat, bukannya malah larut menyelesaikan masalah-masalah masa lalu,” pungkas Jumongkas. (sug)
sumber: http://analisadaily.com

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *