TINGKATKAN PRODUKSI BUAH DENGAN FERMENTASI AIR KELAPA

MedanBisnis –Medan. Air kelapa tidak hanya sebagai minuman segar namun juga berkhasiat sebagai pemacu pertumbuhan buah jika difermentasikan dan dicampur dengan bahan lain. Penyemprotan air kelapa fermentasi ke bunga buah yang sudah layu sebelum waktunya dapat kembali segar di samping mengurangi potensi layunya bakal bunga.
Hal tersebut dikemukakan petani belimbing di Desa Namuriam, Kecamatan Pancur Batu, Deliserdang, Untung Jaya Meliala saat ditemui MedanBisnis, Rabu (5/9) di ladangnya.

Untung yang mengembangkan tanaman belimbing seluas satu hektare itu mengatakan, air kelapa, kalau sudah difermentasi bisa mengurangi bakal bunga yang mengering. “Jadi kalau bunganya banyak, buahnya juga akan bertambah banyak, dan sebaliknya,” katanya

Dijelaskan Untung, air kelapa yang sudah difermentasi sekitar satu minggu dan sebelum disemprotkan ke bunga  dicampur dengan tepung beras ketan, dan gula merah. Barulah kemudian disemprotkan di saat cuaca panas. “Jadi kalau dicicipi, rasanya manis,” sebutnya.

Untuk membuat campuran tersebut, Untung mengaku cukup mudah. Air kelapa sebanyak 10 liter dicampur dengan tepung beras ketan 2 kg, dan gula merah 2 kg. Air tersebut, setelah bercampur selama 1 minggu, saat akan melakukan penyemprotan dengan menggunakan tabung ukuran 20 liter, cukup menambahkannya dengan air fermentasi kelapa sebanyak 1,5 gelas. “Hasilnya sudah bisa dilihat, dan sudah dicoba untuk tanaman jeruk, belimbing, kakao dan kopi,” ungkapnya.

Selain air kelapa hasil fermentasi tersebut, ia juga mengaku sudah mencoba untuk membuat pupuk organik yang terbuat dari campuran kotoran ayam, abu sisa pembakaran, ikan busuk, NPK dan air. Semua bahan tersebut, dibiarkan bercampur selama sebulan sehingga berubah menjadi lumpur.

Dan, untuk menjadikannya lumpur, setiap hari harus diaduk agar semua bahan bercampur merata. “Pupuk ini dapat meningkatkan produksi antara 5 hingga 10 persen,” katanya.

Cara pembuatannya pun, menurut Untung tidak rumit. Untuk membuat 200 liter pupuk, dibutuhkan 2 goni per 30 kg kotoran ayam, 30 kg abu sisa pembakaran, ikan busuk 15 kg, NPK 10 kg, dan air 200 liter. Setiap harinya harus diaduk agar semua bahan bercampur.

“Pupuk tersebut memiliki aroma menyengat namun khasiatnya bisa dirasakan dengan produksi yang meningkat. Sayangnya, dalam penggunaan pupuk organik, kita masih terkendala dengan penggunaan pupuk kimia dari petani lain karena bisa saja percuma, untuk itu kita berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggunakan bahan kimia,” ungkapnya. (dewantoro)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Teknologi Tepat Guna, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *