PUPUK OPLOSAN DIDUGA KELUAR DARI GUDANG

Medan-andalas Meski telah disegel polisi, karung-karung berisi pupuk oplosan diduga bisa keluar dari gudang No 59A di Komplek PT Bukit Intan Abadi (BIA), Kawasan Industri Medan (KIM) I dan dipindahkan pemiliknya ke tempat lain.

Dugaan itu mencuat menyusul adanya pengakuan dari sejumlah sumber yang sehari-hari beraktivitas di komplek pergudangan tersebut kepada wartawan yang turun ke lokasi tersebut, Selasa (4/9).

Menurut para sumber yang tidak mau menyebutkan identitasnya tersebut, tak lama setelah petugas Dit Reskrimsus Poldasu pergi usai menyegel gudang tersebut dengan memasang garis polisi, Rabu (3/9), segel tersebut dilepas oleh sejumlah oknum.

Kemudian oknum-oknum diduga suruhan pemilik pupuk oplosan tersebut masuk dan memindahkan karung-karung berisi pupuk oplosan itu ke gudang lain dengan truk.

“Penyegelan itu terkesan ecek-ecek aja tu bang karena pupuk-pupuk oplosan itu bisa dikeluarkan dari gudang tanpa penjagaan petugas,” ungkap sumber.

Dari pengamatan wartawan, tampak segel berupa pita garis polisi yang dipasang di pintu masuk gudang seperti sudah rusak karena bekas dilepas. Kedua bagian ujung pita tidak lagi menyatu, tetapi seperti hanya dikaitkan saja di besi penarik pintu.

Di dalam gudang tersebut, Komisi B DPRDSU menemukan ribuan ton pupuk subsidi yang dioplos menjadi pupuk nonsubsidi. Menurut pihak Dit Reskrimsus Poldasu yang turun setelah DPRDSU mendapatkan temuan itu mencatat jumlah pupuk oplosan tersebut mencapai 1.000 ton.

Sumber wartawan lebih lanjut mengatakan aktivitas pengoplosan pupuk sebenarnya tidak cuma hanya terjadi di gudang Komplek BIA, tetapi juga di banyak gudang lainnya.

Aktivitas pengoplosan ini bukan merupakan hal baru, karena sudah berlangsung sejak lama, bahkan bertahun-tahun. Pengusaha gudang maupun pemilik pupuk leluasa melakukan aktivitas haram ini karena diduga ada oknum-oknum berpengaruh yang melindunginya.

“Temuan Anggota Komisi B DPRD Sumut dan pejabat Poldasu di gudang Komplek PT BIA itu sebenarnya hanya segelintir dari puluhan gudang pengoplos pupuk di KIM ini,” ungkap sumber lagi.

Polisi menurut sumber diduga juga sudah tahu siapa pemilik gudang maupun pemilik pupuk oplosan tersebut. “Mana mungkin pemilik pupuk oplosan itu tidak tahu polisi, itu mustahil karena usaha itu bukan baru saat ini saja tapi sudah bertahun-tahun,” kata sumber.

Di KIM ada sejumlah gudang pupuk melakukan pengoplosan tapi tidak pernah dilakukan penggrebekan. “Diduga pengusaha yang digerebek itu karena tidak memberikan sumbangan kepada informan maupun kepada pejabat sehingga dikibuskan kepada DPRD Sumut dan polisi,” tambah sumber lagi.

Sementara itu Sekretaris LSM Indonesia Group of Humanity Sumut Husein Hutagalung SH yang dimintai wartawan tanggapannya Selasa (4/9) di Medan Labuhan mengharapkan kepada polisi supaya serius melakukan penyelidikan terhadap pemilik pupuk Sriwijaya bersubsidi yang dioplos menjadi nonsubsidi itu.

Selain tindakan ini merupakan perbuatan kriminal, aktivitas pengoplosan pupuk ini sangat merugikan petani yang selama ini selalu mengalami kelangkaan pupuk.

Proses Hukum

Hal sama disampaikan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Abubakar Siddik. Dia mengatakan, oknum yang diduga pelaku penimbunan 1.000 ton pupuk bersubsidi di KIM I, harus diproses secara hukum.

“Oknum yang terlibat dalam permainan penyaluran pupuk bersubsidi itu, agar diberi sanksi hukum yang tegas, sehingga dapat membut efek jera dan tidak mengulagi lagi perbuatan yang salah tersebut,” katanya di Medan.

Abubakar mengatakan, penimbunan pupuk bersubsidi tersebut, tidak hanya merugikan para petani, tetapi juga negara. Oleh karena itu, menurut dia, siapa saja oknum yang terlibat dalam “spekulasi” atau berada dibalik permainan pupuk bersubsidi tersebut harus diusut hingga tuntas.

Dia menambahkan, dengan ditemukannya lokasi penyembunyian pupuk bersubsidi itu, merupakan langkah awal bagi aparat kepolisian untuk “membongkar” habis permainan sindikat pupuk tersebut.

Selain itu, pupuk bersubsidi yang diamankan tersebut, dapat dibagi-bagikan kepada petani yang membutuhkannya.Dan jangan pula jatuh ke tangan pihak perkebunan.

“Masyarakat petani saat ini sangat memerlukan pupuk bersubsidi itu, karena lahan pertanian mereka sedang musim tanam dan sebentar lagi panen,” ucap Abubakar.(DP/Ant)
sumber : http://harianandalas.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *