PULUHAN TON TBS TERANCAM BUSUK DI PABRIK KELAPA SAWIT

Pasokan Melimpah

MedanBisnis – Medan. Puluhan ton tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terancam busuk di dalam truk, lantaran antre panjang yang terjadi di beberapa Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Sumatera Utara (Sumut) pascalebaran.
Melimpahnya produksi TBS menyebabkan petani harus antre memasok TBS ke PKS. Kondisi ini juga menyebabkan harga di tingkat petani turun tajam. Di beberapa daerah penghasil sawit harganya berfluktuasi tidak menentu di kisaran harga Rp 800/kg hingga Rp 900/kg. Harga ini tentu merugikan petani karena biaya pemupukan, perawatan dan tenaga kerja yang harus dikeluarkan petani cukup tinggi.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumut Anizar Simanjuntak, mengungkapkan antrean panjang ini terjadi lantaran produksi TBS sawit sedang lagi puncaknya, sedangkan jumlah PKS yang menampungnya terbatas. Diperkirakan 10% hingga 15% produksi TBS akan rusak lantaran terlalu lama dibongkar.

“Solusi satu-satunya adalah dengan menambah jumlah PKS. Apkasindo juga sedang berupaya untuk membuat PKS yang dikelola koperasi yang bermitra dengan petani. Bantuan pemerintah juga sangat diharapkan untuk mengatasi permasalahan ini,” ujarnya kepada wartawan, di Medan, Selasa (4/9). Kini, tambahnya, petani merasa kesulitan untuk membayar bunga kredit di beberapa perbankan. Konon pula harga pupuk terus naik dan upah pekerja pun tidak bisa dikurangi.

Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Sumut Laksamana Adyaksa mengakui ada beberapa wilayah di Sumut yang jumlah PKS masih kurang, seperti di pantai barat. Namun, untuk wilayah tertentu, jumlah PKS sudah cukup. Bahkan ada yang berlebih. “Di Sumut, sudah ada seratusan PKS. Regulasi pemerintah yang tidak membolehkan pembangunan PKS tanpa adanya lahan sebesar 2.000 hektare yang membatasi jumlah PKS ini. Penataan yang ditetapkan dalam regulasi ini sangat bagus dalam menjaga persaingan pembelian buah dari perusahaan dan menjaga harga untuk petani. Agar harga dapat terjaga, petani seharusnya menjual TBS langsung ke pabrik, jangan jual ijon, karena agen pasti akan mencari keuntungan,” terangnya.

Menurut Laksamana, harga TBS minggu ini sedikit lebih baik dibandingkan periode yang lalu. Dari tanaman usia muda yang harga per kilogram TBS sekitar Rp 1.033/kg menjadi Rp 1.113/kg di tingkat pabrik. Memang, ungkapnya, untuk harga rata-rata bulan Juli 2012 ini adalah masih di bawah harga rata rata CPO (crude palm oil) pada bulan yang sama di tahun 2011 lalu. Namun, harga rata-rata CPO di bulan Juli lebih baik juga dibandingkan bulan Juni. Dan sampai Agustus 2012 ini, harga rata rata CPO adalah tidak lebih baik dibandingkan dengan tahun 2011.

“Terapi bisnis kelapa sawit secara umum dan CPO secara khususnya adalah tetap menarik dan menjanjikan buat para pelaku usaha baik perusahaan maupun masyarakat umumnya,” ucapnya.

Dijelaskannya, banyak faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga TBS dan CPO, baik  internalmaupun faktor yang bersifat eksternal. Sebagai contoh faktor internal adalah beragamnya harga TBS di setiap daerah yang sangat ditentukan dari mutu TBS itu sendiri dan keberadaan PKS yang akan menerima TBS tersebut. Dan faktor eksternal tentunya adalah terkait dengan kondisi supply komoditas minyak nabati lainnya. (elvidaris simamora)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

 

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *