HATI-HATI, INVESTASI BODONG KEMBALI MARAK

MedanBisnis – Medan. Kasus penipuan berkedok perusahaan investasi kembali terjadi di Medan. Karena itu, masyarakat diminta harus berhati-hati karena bisnis ini hanya mengiming-imingi keuntungan yang tidak nyata. Senin (3/9) lalu, sedikitnya 15 orang mitra dari PT Golden Starway Internasional (GSI) yang tertipu mendatangi Mapolresta Medan untuk melaporkan Direktur PT GSI SL dan Komisaris PT GSI Th A alias Apeng yang telah membawa kabur dana nasabah senilai Rp 7 miliar.
“Kondisi ini memang sudah diperkirakan karena cash flow jumlah dana yang jatuh tempo dan yang akan dinikmati up-line tidak bisa diimbangi oleh dana yang dihimpun oleh para down-line yang terdesak waktu. Sebab, jatuh tempo penarikan reward sudah dipatok,” jelas pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Medan, M Ishak, kepada MedanBisnis, Rabu (5/9).

Bisnis investasi yang mengusung tema multi level marketing (MLM) memang selalu menarik minat masyarakat karena dinilai bisa mendatangkan banyak keuntungan. Masih jelas diingatan, bagaimana para pengusaha PT Banyumas Mulia Abadi (BMA), Hygamnet dan New Era yang melakukan bisnis tersebut tiba-tiba menghilang bersama miliaran rupiah uang member-nya tahun 1998-1999.

“Bisnis ini memang begitu disenangi dan begitu dipuji-puji masyarakat. Padahal tidak sedikit yang benar-benar rugi, bahkan hampir gila karena uang yang diinvestasikan tidak bisa ditarik kembali. Tapi inilah konsekuensi kebebasan perekonomian. Selain itu, ini juga sebagai akibat kurangnya koordinasi pemerintah melakukan monitoring,” ujar Ishak.

Dia mengatakan, masyarakat suka ikut-ikutan dan selalu terbuai dengan laba besar. Ini berangkat dari sistem ekonomi yang lebih diorientasikan pada sistem pasar. “Masyarakat kita masih kurang cerdas dalam menghadapi sistem ekonomi yang bebas seperti ini,” ujar Ishak.

Menurutnya, peluang ekonomi dari sistem ini memang cukup besar. Apalagi, benyak hal yang tidak sesuai kententuan terkait pemberian izin dan pemantauan perusahaan. Harusnya, kata Ishak, laporan keuangan secara bulanan harus diterima oleh dinas pemberi izin atau pengawas. Kalau perlu, lakukan juga inspeksi mendadak (sidak) sehingga tahu perkembangan perusahaan tersebut.
Begitupun, katanya, ini kembali ke masyarakatnya juga. Karena jika tidak ingin mengalami kerugian, harusnya bisa lebih berhati-hati dalam memilih investasi. Pemerintah juga harus intervensi pasar sedini mungkin sehingga tidak semakin banyak perusahaan yang berkedok investasi.

Budisuharna, warga Jalan Jermal, mengatakan, ia tertarik berinvestasi MLM karena ada iming-iming bunga yang besar. “Tapi setelah menjalani, ternyata justru kerugian yang kita dapat. Selain itu, tidak tahu pula pihak mana yang harus kita minta tanggungjawab. Karena itu, kita harus lebih berhati-hatilah,” katanya. (elvidaris simamora)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *