PASCA-LEBARAN, HARGA KARET DI MADINA MEMBAIK

MADINA(Berita): Harga karet di Kabupaten Mandailing Natal dalam beberapa hari pascalibur Hari Raya Idul Fitri 143 Hijriah mulai membaik (meningkat). Kenaikan harga memang tidak signifikan, namun sudah menimbulkan gairah di kalangan petani setempat. Sebab, situasi ini sudah berbeda jauh dibanding beberapa saat sebelum Lebaran.

Hal itu dikatakan Zulhaji Nasution, salah satu petani karet yang bermukim di Desa Gunungtua Julu, Kecamatan Penyabungan, kepada  Berita Jumat (1/9). Kata dia, tercatat, saat sebelum Lebaran harga getah karet di tingkat petani setempat mencapai Rp 4.500 per kilogram (kg).

Saat itu, ia dan kalangan petani karet di Madina, termasuk penderes atau pekerja kebun karet dan pemilik kebun, kecewa. Anjloknya harga getah karet diperparah oleh menurunnya daya beli masyarakat.

Namun, ujarnya, terjadi perbaikan kondisi, di mana dalam dua hari terakhir harga karet mulai membaik. Hal ini, ujar Zulhaji, ditandai dengan harga penjulan di tingkat pedagang pengumpul getah karet sudah merangkak naik menjadi Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per kilogram.Zulhaji menilai harga itu belum normal betul, akan tetapi kehidupan masyarakat setempat yang hidup dari perkebunan karet mulai bergairah kembali.
“Kejadian anjloknya harga getah karet jelang Hari Raya kemarin benar – benar membuat kita lesu. Apalagi pada waktu itu kita ketahui bersama kebutuhan hidup sedang meningkat dalam menyambut Lebaran, bahkan tidak sedikit dari petani yang mencari utangan,” jelasnya.
Zulhaji lalu mengenang masa-masa sulit ketika harga karet jatuh. Padahal saat itu dua hari lagi Lebaran akan tiba. Dia mencoba mencari tempat penjualan getah karet miliknya yang tidak dijual waktu jelang Lebaran. Ia telah berusaha keras, namun ternyata harga getah karet masih rendah, yakni hanya berkisar Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram.

Melihat kondisi pasar tak kunjung membaik, ia mengambil keputusan yakni menyimpan seluruh panen getah karetnya sampai ada perbaikan harga di tingkat pengumpul getah karet.

“Memang sebagian petani ada yang menyimpan getah karet menunggu harga membaik, dan baru kemarin (Kamis – red) harga agak membaik untuk harga paling rendah dibayar Rp 8.000 dan untuk kualitas lebih bagus berkisar Rp 9.000 per kilogram. Tetapi  harga karet ini sebetulnya masih belum normal jika kita bandingkan dengan harga kebutuhan sehari–hari yang meningkat. Paling tidak harga yang normal itu ya di atas Rp10.000 per kilogram baru ada keseimbangan antara kebutuhan hidup kita,” kata Zulhaji.

Sementara itu Mugiroh, salah seorang pengumpul getah karet dari kalangan petani, mengatakan, anjloknya harga getah karet saat sebelum Lebaran lebih dipengaruhi dari harga pasar yang ada di beberapa daerah di luar Kabupaten Madina. Ia membantah asumsi yang menyebutkan penurunan harga karet saat itu karena ulah pengumpul getah karet seperti dirinya.

Kata dia, penurunan yang ada saat bukan karena dibuat–buat oleh para pengumpul. Sebab, ujar dia, pada saat itu permintaan getah karet dari negara – negara luar kepada Indonesia memang jauh berkurang. “Sebetulnya inilah yang mempengaruhi harga getah karet menjadi turun. Lalu, memang begitu juga setiap jelang hari–hari besar keagamaan harga getah karet sering turun,” ujar Muqiroh.

Muqiroh mengatakan, biasanya kalau harga getah karet anjlok saat libur hari besar keagamaan karena dipengaruhi banyak dari pabrik pengolahan karet yang libur. “Yang seperti itu biasanya yang bikin anjlok harga getah karet,” kata dia.
Namun penurunan harga karet yang terjadi beberapa saat sebelum Lebaran, ujar dia, di luar kebiasaan, yakni anjlok mencapai 100%. “Yang kemarin itu anjloknya mencapai 100%. Kitapun dalam situasi seperti ini sangat dirugikan, karena kalau kita melakukan pembelian menjelang Lebaran kemarin, pabrik tutup tentu kita simpan. Nah, menunggu pabrik buka akan terjadi penyusutan berat dari getah karet yang kita beli,” tegas Muqiroh. (Isk/Mfr)
sumber: http://beritasore.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *