BKP AKAN PAPARKAN “MANGGADONG” DI ISTANA WAPRES

Medan (Antara) : Badan Ketahanan Pangan Sumatera Utara akan memaparkan “manggadong”, konsep diversifikasi pangan dari provinsi ini dalam rapat koordinasi di Istana Wakil Presiden.

“Kami diberikan kesempatan untuk memaparkan manggadong,” kata Kepala BKP Sumut Setyo Purwadi di Medan, Senin (03/09).

Menurut Purwadi, pemaparan di Istana Wakil Presiden RI yang akan diikuti empat BKP lain dan dilaksanakan pada 13 September 2012 tersebut merupakan tindak lanjut dari dua pertemuan Dewan Ketahanan Pangan sebelumnya.

Dari sosialisasi selama ini, pemerintah pusat tertarik dengan konsep manggadong yang menjadi pangan pendahulu sebelum makan nasi yang dikampayekan BKP Sumut.

Karena itu, pihaknya diberikan kesempatan untuk memaparkan konsep manggadong yang mengangkat kearifan lokal dari etnis Tapanuli tersebut.

Belakangan ini, kata Purwadi, untuk memperkuat ketahanan pangan di Tanah Air, pemerintah mengiringi upaya pemaksimalan dalam peningkatan produksi dengan diversifikasi pangan.

Upaya pemaksimalan dalam peningkatan produksi tersebut telah “all out”, mulai dari penyediaan bibit, pupuk, hingga bantuan berbagai alat pertanian.

Disebabkan pertumbuhan penduduk masih tinggi dan banyaknya konversi lahan, pemerintah menilai upaya diversifikasi pangan perlu dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan.

Dari penilaian selama ini, konsep manggadong yang dikampanyekan BKP Sumut dianggap dapat menjadi solusi sebagai salah satu bahan diversifikasi pangan.

“Kami bangga karena BKP Sumut dipercaya untuk menampilkan slot tentang manggadong,” katanya.

Manggadong dalam bahasa Tapanuli adalah mengonsumsi ubi atau ketela yang diolah menjadi berbagai jenis makanan untuk dikonsumsi sebelum makan nasi.

Dari segi asupan, kandungan gizi ketela juga cukup banyak dan mampu menggantikan zat yang dibutuhkan tubuh dari nasi. Jika dalam sesuap nasi terkandung 150 karbohidrat, ketela mengandung 100 karbohidrat dalam takaran yang sama.

Demikian juga kandungan kalori dengan 100 untuk ubi atau ketela dan 250 untuk nasi dalam takaran yang juga sama.

Konsumsi ubi atau ketela bukan dimaksudkan untuk mengganti nasi melainkan mengurangi konsumsi beras yang selama ini menjadi bahan makanan utama masyarakat di Tanah Air.

“Manggadong hanya untuk mengurangi konsumsi beras. Kalau mengganti konsumsi beras, hampir sulit dilakukan,” katanya.(ant)
sumber: http://beritasore.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *