MASYARAKAT TIONGHOA GELAR SEMBAHYANG LELUHUR

Medan-andalas Menurut kepercayaan etnis Tionghoa, pada pertengahan bulan ketujuh ‘Chit Gwee Poa’ atau tanggal lima belas bulan tujuh penanggalan Imlek, Jumat (31/8),  pintu akhirat terbuka lebar dan akan berlangsung selama sebulan penuh. Pada masa ini, tradisi sembahyang leluhur pun ramai-ramai dilaksanakan mereka.

Pantauan andalas di Krematorium Yayasan Sosial Go Sia Kong So (GSKS) Jalan Pinang Baris No168, Medan Sunggal, sejak Jumat pagi ratusan warga etnis Tionghoa sudah berdatangan untuk melaksanakan ritual tersebut dengan membawa sesaji dan perlengkapan sembahyang lainnya.

“Selama bulan tujuh perhitungan kalender lunar ini, etnis Tionghoa mempunyai tradisi melakukan sembahyang leluhur. Tradisi ini untuk mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia, agar mendapatkan tempat lebih baik, bisa terbebas dari neraka dan selanjutnya mendapatkan alam baka lebih baik. Pada bulan ini dipercaya doa untuk para leluhur yang telah meninggal dunia dapat dikabulkan,” ujar Ahuat, salah seorang staf GSKS.

Sembahyang leluhur ini, lanjut dia, tidak berbeda dengan sembahyang umumnya yang dilakukan masyarakat Tionghoa. Tetap menggunakan berbagai persembahan seperti buah-buahan, makanan, kue, kertas sembahyang, dupa (hio) hingga persembahan baju, celana,  sandal, dan sepatu kertas.

Menurut dia, bagi umat lainnya biasanya waktu sembahyang juga tidak ditentukan, bisa pada pagi hari, siang hari ataupun malam hari. Sedangkan upacara sembahyang leluhur secara bersama-sama ‘Pho Tho’, akan dijalankan Yayasan Sosial GSKS, Minggu (9/9) mendatang, dimulai dengan ritual sembahyang dan makan bersama pada pagi hingga malam hari.

Sementara Aong salah satu warga etnis Tionghoa mengaku, keluarganya sangat menghargai dan menghormati leluhur. Setiap menjelang sembahyang leluhur tanggal 15 bulan ke tujuh penanggalan Imlek, mereka melakukan tradisi menyajikan berbagai makanan, buah dan sayur-sayuran.

Di rumahnya, Jalan Pasundan, Medan, sejak pagi Aong dan keluarganya sudah sibuk mempersiapkan aneka sajian lengkap dengan baju, celana, sepatu, dan sandal terbuat dari kertas.

“Hari ini, tanggal 15 penanggalan Imlek, kita sembahyang untuk menghormati leluhur,” ujar Aong di kediamannya kepada andalas seraya menambahkan etnis Tionghoa umumnya berkeyakinan arwah leluhur datang untuk melihat sanak keluarganya.

“Biasanya kami juga membakar uang kertas emas (kimchua) untuk dikirimkan bagi leluhur. Itu sudah menjadi tradisi dan kepercayaan. Sembahyang juga bisa dilakukan di rumah masing-masing,” kata Aong. (Siong)
sumber : http://harianandalas.com

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *