HARGA TIDAK STABIL, PETANI MULAI TINGGALKAN TANAMAN JAGUNG

MedanBisnis – Medan. Panen jagung di sentra produksi Sumatera Utara (Sumut) sudah mencapai 70%. Dengan harga yang saat ini cukup menggembirakan, ternyata di sentra produksi para petani mulai beralih ke tanaman ubi dan cabai.
“Ini dapat menjadi ancaman program swasembada jagung. Pemerintah diharapkan mampu menstabilkan harga agar petani tidak terus beralih ke tanaman lain,” kata Ketua Himpunan Petani Jagung Indonesia, Jemaat Sebayang kepada MedanBisnis, Rabu (29/8).

Dikatakan Jemaat, di sentra-sentra produksi jagung di Sumut seperti Deliserdang, Serdang Bedagai, Dairi, Simalungun, Karo, dan Langkat panen jagung sudah mencapai 70%. “Tinggal 30 persen lagi panen jagung di sentra produksi,” jelasnya sembari menambahkan jika seluruh sentra jagung panen pada tahun ini produksi jagung bisa mencapai 900.000 ton.

“Beruntung bagi petani karena saat ini harga jagung cukup menggeembirakan. Di tingkat petani harga jual jagung berkisar antara Rp 2.600 – Rp 2.700 per kilogram. Harga ini cukup tinggi disaat petani melakukan panen jagung. Karenanya kami minta pemerintah bisa mestabilkan harga, kalau tidak petani akan merugi lagi,” ungkapnya.

Jika harga jagung tidak  stabil, ke depan akan semakin banyak petani jagung yang memilih menanam tanaman lain karena prospek jagung yang kurang menguntungkan dengan harganya yang tidak menentu. Saat ini saja, kata Jemaat di sentra-sentra produksi jagung banyak petani  yang beralih menanam cabai dan ubi.

“Di Simalungun, petani sudah beralih menanam ubi dan sudah besar sekarang, di Dairi 25 persen lahan jagung ditanami dengan tanaman ubi, di Karo sudah 30 persen berganti tanaman cabai. Ini bisa mengancam swasembada jagung nasional,” katanya.

Meskipun kondisi saat ini harga jagung menggembirakan dan impor jagung juga dihentikan di saat petani panen, namun yang juga tidak boleh dilupakan adalah pembentukan tim monitoring jagung segera dilaksanakan. Ini penting karena dengan tim monitoring tersebut bisa menyelamatkan petani jagung. “Kalau saja harganya bisa bagus dan stabil seperti sekarang ini, saya yakin petani jagung yang beralih ke tanaman lain akan kembali menanam jagung,” tambahnya. (dewantoro)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *