PETANI SULIT LEPAS DARI KETERGANTUNGAN PESTISIDA

MedanBisnis – Medan. Penggunaan pupuk pestisida di tingkat petani hingga saat ini masih sangat tinggi. Bahkan, banyak petani yang sulit melepaskan penggunaan pestisida dalam budidaya pertaniannya demi mengejar produksi.
Pengamat pertanian yang juga pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) A Rauf, kepada MedanBisnis, Kamis (30/8) di Medan mengatakan, pestisida digunakan petani utamanya untuk menghalau serangan hama yang mengganggu tanamannya.

Karena menurut petani hanya dengan pestisida hama tersebut dapat dibasmi. Namun, dengan hilangnya salah satu hama biasanya akan memunculkan hama lain yang mana musuh utamanya sudah musnah sebelumnya.

Ia menjelaskan, keberadaan hama jika tidak dilakukan pembasmian akan mengganggu produksi. Sedangkan yang diinginkan petani adalah bagaimana pertanamannya menghasilkan produksi yang maksimal. Dengan situasi yang demikian, petani dihadapkan pada pilihan yang berat membiarkan hama terus menyerang atau ia akan merugi.

Sementara dengan menggunakan pestisida, hama dapat dikendalikan dan produksi tidak terganggu. Petani, lanjut dia, sudah memiliki ketergantungan yang besar terhadap pestisida karena dengan cara lain belum bisa berhasil maksimal. “Dengan menggunakan pestisida, secara perlahan akan mengurangi kualitas tanah dan produksi di kemudian hari,” ungkapnya.

Ia menilai, hal tersebut terjadi akibat terganggunya ekosistem atas penggunaan pestisida yang menghilangkan mata rantai makanan. Ketika salah satu spesies menghilang maka musuh utama dari spesies tersebut akan mendominasi. Faktor lain yang menyebabkan tingginya spesies yang menjadi hama disebabkan karena habitat aslinya berubah fungsi.

Dikatakan Rauf, sebenarnya banyak hal bisa dilakukan mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida. Salah satunya dengan melakukan pengelolaan lahan secara hayati dengan memaksimalkan sumber daya yang ada di sekitar.

“Gambaran mudahnya dengan pertanian organik, ini bisa menjadi alternatif, tapi juga tidak bisa 100 persen mengurangi ketergantungan pestisida. Intinya adalah kesadaran petani bertanam dengan pola hayati sebisa mungkin,” ungkapnya.

Ia menilai, pengelolaan hayati dapat berjalan dengan baik jika diiringi pasar yang menguntungkan. Dikatakannya bahwa produk pertanian organik yang lebih tinggi daripada produk non organik bisa menjadi alasan bagi petani untuk memilih tetap menggunakan pestisida. “Kita harus bisa menyiapkan pasar produk organik agar kesadaran petani tidak menggunakan pestisida bisa berjalan,” ungkapnya.

Viktor Girsang, salah seorang petani tomat di Berastagi mengatakan bahwa dirinya sejak lama menggunakan pestisida untuk membasmi hama yang seringkali muncul dan membuat tomatnya gagal berbuah.

Dengan menggunakan pestisida, hama yang menterang tanamanpun menghilang. “Kalau sekali musim saja tak pakai obat pestisida, sudah pasti panennya akan jelek. Makanya, kami tetap memakai pestisda karena tak tahu mau garus bagaimana lagi,” ungkapnya.(dewantoro)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *