NILAI KAPAHLAWANAN (KETOKOHAN) DALAM MASYARAKAT KARO (BAG. 3)

Apresiasi Nilai Kepahlawanan Dalam Masyarakat Karo

Dalam pentas nasional dapat dikatakan masih sedikit sekali tokoh Karo yang muncul kepermukaan, bahkan belum ada pejuang dari masyarakat Karo yang berstatus sebagai pahlawan nasional. Padahal begitu banyak pejuang dan pengorbanan masyarakat Karo dalam berjuang mengusir penjajah. Yang menjadi masalah adalah sangat sedikit pemerhati dan pemikir Karo yang berusaha menggali dan mengusulkan nama pejuang menjadi pahlawan nasional. Mungkin hanya almarhum Prof. DR Masri Singarimbun satu-satunya yang telah berusaha secara ilmiah memberi perhatian dalam hal ini, yakni dengan mengankat nama Kiras Bangun atau Garamata dalam suatu seminar tahun 1993 di Kampus USU Medan. Kini Kiras Bangun telah resmi menjadi pahlawan nasional oleh Presiden SBY beberapa waktu lalu (MVW).

Kini, tampaknya kesadaran itu sudah mulai ada sejak pertengahan tahun 1990-an dengan mengabadikan nama Letjen Djamin Ginting menjadi nama jalan di Medan, Kabanjahe, Berastagi, Binjai dan Langkat. Tetapi itupun masih terbatas dalam beberapa wilayah Sumatera Utara, belum mencapai wilayah seluruh Indonesia. (Itu merupakan hutang sejarah kita ke depan). Selain itu juga telah dibangunnya tugu Djaga Depari di daerah Padang Bulan, Medan yang sangat berguna untuk pengenalan terhadap terhadap generasi muda tehadap komponis Karo yang produktif ini.

Selain itu, pemerintah kabupaten Karo juga mulai menyadari akan hal ini, yakni beberapa waktu silam, Bupati Karo Sinar Peranginangin telah menetapkan pembangunan tugu Ir. Soekarno setinggi tujuh meter di Berastagi. Hal ini juga merupakan salah satu cara menumbuhkan rasa kepahlawanan bagi masyarakat. Dimana Bapak Proklamator tersebut cukup dekat dengan rakyat Karo karena beliau pernah diasingkan di Berastagi bersama Bung Hatta pada bulan Desember 1948. Di dalam pengasingan juga pernah ditemani oleh Haji Agus Salim.
Selanjutnya, masyarakat Karo yang dikenal terbuka juga sering memberikan anugrah merga/beru bagi banyak tokoh di luar masyarakat Karo yang diangkat menjadi anggota masyarakat Karo. Cara ini sering disebut iosei/iuis-garai dan ditahbiskan dalam suatu upacara adat kemudian diberi merga atau beru. Tokoh yang pernah di-osei, antara lain:
Megawati Soekarnoputri, dianugrahi beru Peranginangin ketika masih menjabat ketua PDI sebelum terbagi menjadi dua.
Guruh Soekarnoputra, juga diberi merga Peranginangin
Soedarmono, SH. Mantan Ketua Golkar diberi marga Sitepu.
Letjen Dibyo Widodo, mantan Kapolri disahkan menjadi merga Kaban, dll.

Kesimpulan yang perlu ditarik dari hal tersebut bahwa dalam persaingan global maupun dalam konteks otonomi, bahwa populasi suatu etnis tidak satu-satunya yang menentukan, tetapi kualitaslah yang menjadi sangat penting. Hal tersebut dapat dijadikan menjadi tolok ukur bagi kalak Karo. Dimana bagi etnis Cina pendidikan itu menjadi suatu hal yang sangat penting, sehingga mereka selalu berusaha menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik di dalam dan luar negeri. Selesai pendidikan mereka mencari kerja yang bergengsi di level menengah ke atas atau menciptakan lapangan kerja sendiri (wiraswasta). Kondisi itu telah terjadi di Indonesia, bahwa para manajer-manajer dan pinpinan perusahaan lebih banyak dari etnis Cina, sementara orang pribumi harus puas dengan status karyawan.

Melihat sangat sedikitnya orang Karo yang tampil kepermukaan sebagai pahlawan ataupun tokoh, maka kita sebagai generasi muda berhutang untuk menggali sejarah guna mengangkat fakta bahwa ada tokoh Karo yang layak diangkat sebagai pahlawan. Kita sebagai generasi muda Karo teruslah belajar dan mengembangkan diri, sehingga pada waktunya kelak kita juga layak menjadi tokoh yang menjadi teladan. Demikian tulisan ini. Kiranya bermanfaat bagi para pembaca sekalian

* Tulisan ini disampaikan pada seminar sehari Mahasiswa Karo se-Bandung Raya. Kampus ITB, 4 Oktober 2002
* Disadur dari blog: http://perkantong-samping.blogspot.com
sumber : http://www.karoweb.or.id

This entry was posted in Berita dan Informasi Utk Takasima, Cerita (Turi - Turin), Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

1 Response to NILAI KAPAHLAWANAN (KETOKOHAN) DALAM MASYARAKAT KARO (BAG. 3)

  1. Pingback: buy skunk online UK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *