SUARA PETANI KARO

Menjerit dan menjerit. Itulah hari-hari belakangan ini melanda petani Karo. Mulai dari pupuk palsu yang tak pernah terurai kusut masainya dan, kemudian, harga hasil pertanian yang tetap rendah. Kini, ditambah dengan hama lalat buah yang menghantam tanpa ampun setiap kebun jeruk, terutama di wilayah utama sentra jeruk.

Gempuran lalat buah membuat petani jeruk mengalami kerugian besar. Menurut analisis, kerugian di tingkat petani saja mencapai 1 Triliyun rupiah, belum dilakukan perhitungan kepada stake holder terkait lainnya. Kerugian sebesar ini membuat petani Karo tersentak seolah terbangun dari tidurnya.

Bagaimana bisa dalam hitungan hari lalat buah menghanguskan mimpi untuk meraih keuntungan dari jeruk? Secara sederhana bisa digambarkan betapa mahalnya kini bertani jeruk. Biaya perawatan, obat, upah pekerja dan tetek bengek lainnya sudah membuat seleksi alam petani mana saja yang mampu meneruskan petani jeruk. Lalat buah membuat untung menguap di udara. Bagaimana mungkin mengembalikan modal yang cukup besar?

Memang biaya bersekolah dari pengalaman mahal sekali. Angka 1 Triliyun membuat sebagian petani tersadar. Tidak bisa diharapkan siapapun, bahkan pemerintah, untuk memecahkan persoalan ini. Beberapa kelompok masyarakat petani mulai memikirkan penanggulangan bersama. GBKP, misalnya, langsung membuat surat edaran kepada jemaatnya  tentang partisipasi bersama menangkal lalat buah. Ada lagi warga Desa Raya (Kec. Berastagi) yang melakukan penanggulangan bersama melibatkan seluruh warga desa dan melakukan swadaya.

Gerakan-gerakan ini bagai penyuntik semangat di tengah kelesuan. Jika setiap petani bisa memanfaatkan momen ini, barangkali bencana lalat buah kali ini bisa menjadi titik balik mengembalikan kejayaan petani Karo. Kejayaan karena usaha  dan kesadaran sendiri.

Gerakan lain yang sukup inspiratif yaitu demo yang dilakukan petani jagung, yang meminta pemerintah bisa melakukan proteksi terhadap harga jagung yang selama ini selalu merugikan petani.

Namun, alangkah tidak lucunya, ketika petani secara sadar bergerak memperbaiki keadaan mereka, pemerintah malahan diam, sekedar menjalankan prosedur. Bisa dibayangkan efek yang timbul jika pemerintah dan petani bekerjasama memulihkan keadaan. Keadaan baik akan cepat terrealisasi.

Tetapi, wahai petani, kerjasama pemerintah dan petani adalah situasi ideal. Jangan kiranya surut berusaha dan bekerjasama walau tanpa pemerintah. Saatnya menentukan nasib sendiri. Kepada masyarakat lainnya yang bukan petani, tunjukkanlah solidaritas dengan mengkonsumsi produksi petani kita. Mudah-mudahan situasi ini bisa segera pulih. Pinter bilang ku Dibata!                                                 Oleh Ita Apulina Tarigan (Pemred Sora Sirulo)                               sumber : http://www.sorasirulo.net

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *