ACARA ADAT SEBAGAI SENI PANGGUNG

AGRIFA SINGARIMBUN. SIBOLANGIT. Untuk pertama kalinya Sanggar Seni Sirulo diminta menampilkan suasana kematian pada masyarakat Suku Karo yang selanjutnya lebih diarahkan kepada pemakaman cawir metua. Itulah yang ditampilkan Sirulo seusai seminar sehari mengenai “Adat Kematen Ibas Kalak Karo Ditinjau dari Iman Kristen” yang dilaksanakan oleh Museum GBKP Sukamakmur di Cory Inn & Garden (Sibolangit) [10/11].

Penampilan Sirulo terdiri dari 2 babak. Babak I merangkai terjadinya peristiwa kematian hingga penguburan, dan Babak II merangkai acara sepulang dari kuburan seperti halnya Pelandek Guru dan Perumah Begu.

“Kita bukan memperagakan pelaksanaan adat Karo,” kata pimpinan Sirulo, Ita Apulina Tarigan, saat menghantarkan penampilan ini kepada penonton. Selanjutnya dia menjelaskan penampilan ini sebagai kreasi seni panggung yang dirancang dan disutradarai oleh Juara R. Ginting lewat webcam dari Leiden (Nederland). “Kita menampilkan hiburan seni, bukan mau memberi contoh pelaksanaan adat,” kata Ita.

Meski penampilan ini terbilang mempesona, ternyata masih ada kesalahan tafsir dari beberapa penonton yang terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, bidang dan nuansa seni. Bahkan ada penonton yang tetap mengharapkan penampilan itu adalah sebuah peragaan tata cara pelaksanaan adat kematen cawir metua sehingga terjadi perdebatan sengit seusai penampilan. Bahkan ada diantara penonton yang menyela atau bertanya di saat penampilan sedang berlangsung.

Perancang penampilan Juara R. Ginting seusai penampilan meminta para artis Sirulo (lewat webcam) untuk menjadikan hal ini sebagai risiko menampilkan sesuatu yang belum dikenal secara umum di masyarakt.

“Kita sedang memulai sesuatu yang baru di masyarakat Karo. Penonton juga harus dibimbing untuk bisa menikmati seni yang kita tawarkan. Saya melihat dari kejauhan (lewat webcam, red.), sebagian penonton masih dipengaruhi oleh suasana perdebatan dari seminar. Sepertinya, debat belum selesai baginya dan memanfaatkan penampilan kita sebagai objek pelampiasan debat sebelumnya. Sehingga mereka tidak mau mendengar penjelasan bahwa ini penampilan seni, bukan peragaan adat. Manalah mungkin adat cawir metua diperagakan selama setengah jam di panggung. Mantem kerbona saja la bias setengah jam,” kata Juara berkelakar disambut ketawa oleh para artis Sirulo.

Tidak aneh kalau dalam pertunjukan itu Sirulo mengolah beberapa lagu pop ke suasana klasik/ tradisional seperti halnya Bunga Rampe dan Terlale-lale Anak Melumang. Pidato kematian yang dibawakan oleh Salmen Sembiring sungguh menakjubkan. Dia mampu merangkai kata-kata puitis dan irama pidato khas Karo yang biasanya hanya bisa disampaikan oleh para senior, diiringi gendang lima sendalanen dan tarian menyampaikan maneh-maneh (uis julu) dan morah-morah (uis teba). Demikian juga penampilan Pelandek Guru dan Perumah Begu dengan peran Averiana Barus sebagai guru sibaso didampingi Bernita Sembiring sungguh mempesona.

Video penampilan ini dapat dilihat di Sirulo TV dengan mengklik


sumber : http://www.sorasirulo.net

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Cerita (Turi - Turin), Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *