NELAYAN RI-MALAYSIA DILARANG EKSPLORASI ZEE

MEDAN – Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia telah membuat MoU untuk batas wilayah perairan di dua negara tersebut yang selama ini menjadi sengketa. Nelayan dari kedua negara tersebut tidak diperkenankan mengeksplorasi daerah sengketa yang masuk dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) untuk kegiatan ekonomi.

“Karena masih ada persoalan zona ekonomi eksklusif yang belum clear antara Indonesia dengan Malaysia, sehingga dicapai kesepatakan tanggal 1 Februari lalu dimana zee itu disepakati untuk sementara tidak boleh dilakukan eksplorasi perekonomian,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho usai coffee morning dengan FKPD Sumut di Gubernuran, hari ini.

“Dan tugas Danlantama l harus menjaga agar nelayan kita tidak melakukan kegiatan ekonomi di zona itu, dan juga mengingatkan nelayan Malaysia tidak melakukan kegiatan ekonomi di sana,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Dan Lantamal Belawan, Laksma TNI Bambang Susilo menambahkan, ada wilayah di tengah laut yang berada dalam zona ekonomi ekslusif,  namun masih dalam sengketa antara RI dan Malaysia.

Dia menuturkan, garis batas landas kontinen yang terletak di Selat Malaka selama ini tidak adil bagi Indonesia. Karena lebih dekat ke garis pantai Sumatera. Sementara dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai hukum laut yang telah ditetapkan pada 1982 lalu, batas wilayahnya harus dibagi dua.

“Landas kontinen yang lama batasnya lebih banyak ke arah kita. Jadi lebih kecil wilayahnya. Harusnya berdasarkan hukum Konvensi PBB ini dibagi dua,” ungkapnya.

Oleh karena itu, katanya, terhitung sejak 1 Februari lalu sudah disepakati kedua belah pihak antarnegara untuk tidak melakukan kegiatan eksplorasi ekonomi baik itu penangkapan ikan dan kekayaan hasil laut lainnya di sepanjang garis tengah perairan Selat Malaka.

Dia menjelaskan, selama belum ada kesepakatan kedua belah pihak, untuk sementara waktu TNI AL akan meningkatkan frekuensi kehadirannya di wilayah perbatasan tersebut untuk mencegah nelayan Indonesia masuk wilayah perairan yang tertutup untuk eksplorasi. Begitu juga sebaliknya mereka bertugas untuk menghadang kapal Malaysia yang mencoba masuk garis tengah Selat Malaka. Bahkan, ujar Soesilo, kalau bisa, pihaknya akan terus mengawal nelayan-nelayan Indonesia untuk mengantisipasi agar tidak masuk ke wilayah itu.

Disinggung mengenai banyaknya nelayan Indonesia yang ditangkap polisi perairan Malaysia, menurutnya karena banyak nelayan tradisional yang tidak mengetahui persis batas wilayahnya. Namun bukan berarti selama ini TNI AL tidak pernah menangkap nelayan Malaysia yang masuk ke perairan Indonesia.“Kami sering tangkap juga, cuma kurang ekspos dan biasanya kami beri peringatan langsung,” sebutnya.

Sementara Plt Gubernur Sumut menambahkan, pihaknya akan memperjuangkan secara maksimal penambahan armada patroli untuk meningkatkan kehadiran serta kewibawaan RI di laut.
sumber: http://waspada.co.id

This entry was posted in Berita Pilihan, Informasi Penting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *