PETANI KOPI DIBANJIRI PERMINTAAN UNTUK STOK 2012

MedanBisnis – Medan. Petani kopi di Sumatera Utara (Sumut) dibanjiri permintaan dari pedagang pengumpul untuk stok Januari-Februari 2012 karena masa panen baru dimulai paling cepat Maret.
“Banyak pedagang pengumpul yang mau beli kopi, tetapi barang (kopi) tinggal sedikit karena sudah mau habis panen,” kata R Sembiring, petani kopi dari Sidikalang di Medan, Kamis (29/12).

Meski harga beli ditawari lebh tinggi dari harga normal sebelumnya sebesar Rp 50 ribuan per kg untuk arabika asalan, tetapi petani tidak bisa menjual lebih banyak. “Tawaran harga yang lebih mahal jelas menggiurkan, tapi bagaimana mau memenuhi permintaan itu karena buah di pohon sudah tinggal sedikit karena panen sudah mau habis,” katanya.

Dengan sedikitnya kopi di petani sementara masa panen baru diperhitungkan akan dimulai Maret atau April 2012, harga jual tahun 2012 bisa naik. “Petani sangat berharap sekali  harga kopi naik lagi, karena terus terang dengan umur tanaman yang semakin tua, produksi tidak terlalu banyak,” katanya.

Wakil Ketua bidang Speciality dan Industri Kopi Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia (AEKI) Sumut, Saidul Alam, mengakui, semakin sulitnya eksportir mendapatkan pasokan kopi dari pedagang pengumpul maupun petani.

Di tengah semakin sulitnya mendapatkan kopi, harga beli dari pedagang juga tren naik dari harga sebelumnya yang di kisaran Rp55.000 – Rp56.000 per kg untu jenis arabika denga mutu asalan.
Akibat tren menguatnya harga di lokal, eksportir semakin merasa sulit karena para pembeli dari luar negeri minta kopi itu seharga US$ 7,2 per kg.    Kalau harga di lokal sudah Rp56ribuan ke atas, harga jual yang menguntungkan harusnya di level US$ 7,4 – 7,5 per kg.

Mengenai  prospek harga kopi di 2012, kata dia, sulit sekali diprediksi karena banyak faktor yang menyebabkan naik atau turunnya harga kopi di pasar intenasional. Kalau pasokan ketat, ada kemungkinan harga naik dan sebaliknya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Suharno, mengatakan nilai ekspor kopi termasuk teh dan rempah-rempah pada Januari-September naik 62,45%  dari tahun lalu atau mencapai US$ 344,502 juta dipicu kenaikan harga jual. Tingginya kenaikan nilai ekspor, menyebabkan golongan barang itu masih berada di posisi ke empat sebagai pemberi terbesar dalam penerimaan devisa Sumut yang hingga September sudah mencapai  US$ 8,961 miliar. (ant)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *