DISTANLA AKAN LELANG 31 EKOR TERNAK BABI

MEDAN– Dinas Pertanian dan Kelautan (Distanla) bersama Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan segera melelang 31 ekor babi yang disita dari enam kecamatan di Kota Medan.

Keputusan lelang ini sesuai dari hasil keputusan hakim di sidang tindak pidana ringan (tipiring) yang digelar di Rumah Potong Hewan (RPH) akhir pekan lalu. “Keseluruhan ternak sudah kami serahkan ke kejaksaan, dan kejari Medan saat ini sedang melakukan proses pelelangan. Seluruh ternak yang sudah kita tertibkan itu akan dilelang oleh badan lelang,”kata Kepala Bidang (Kabid) Produksi Peternakan Distanla Medan Emilia Lubis.

Dalam sidang di RPH, dari 28 kepala keluarga (KK) pemilik puluhan ekor babi itu,hanya dua orang yang hadir, yakni berasal dari Kecamatan Helvetia. Ternak babi yang disita ini merupakan ternak hasil penertiban Distanla Medan beberapa waktu lalu,yakni di Kecamatan Helvetia, Medan Area, Barat, Petisah, Selayang dan Tuntungan.

Emilia mengatakan, penyelanggaraan sidang ternak babi ini telah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) No 4/1995 tentang Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK). Dalam aturan itu dinyatakan, ternak babi yang sudah ditertibkan Distanla akan dieksekusi kejari, dan sebelumnya digelar sidang terhadap pemilik ternak.

Namun, karena kedua pemilik ternak,yakni DN Siagian dan Martha Merry Pardede menolak keputusan hakim,maka ternak babi yang sudah disita akan dilelang. Awalnya, ternak ini diasumsikan akan dimusnahkan, namun hakim menolak karena keseluruhan ternak ini sehat dan memiliki nilai jual yang akhirnya harus dilelang.

“Proses lelang ini cukup ribet juga karena ternak harus didaftarkan di badan pelelangan dan diumumkan di kecamatan, apalagi biayanya juga cukup mahal, babi yang kita sita juga ukurannya tidak terlalu besar, kalau dapat dikatakan kalaupun ternak dilelang belum mencukupi biaya lelang,” papar Emilia.

Pada sidang yang dipimpin hakim Zulkifli dari Pengadilan Negeri (PN) Medan, bersama Jaksa Lila Nasution dari Kejari Medan dan panitera Zulkarnain, DN Siagian dan Martha Merry Pardede menolak membayar denda sesuai dengan keputusan hakim.

“Kami tak mau membayar itu. Kami kira dipanggil di sini karena ternak kami akan dipulangkan, rupanya tidak, justru kami pula yang harus mengeluarkan uang,” kata DN Siagian.
sumber: http://waspada.co.id

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *